KUPAT KETHEG - GRESIK : WARISAN KULINER SUNAN GIRI



Penampilannya tak jauh beda dengan ketupat lain. Memerlukan perjuangan ekstra untuk membuat kuliner yang satu ini, sebab bahannya sudah sangat langka ditemukan di wilayah aslinya, yakni Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Bahan itu adalah air “ketheg”, atau warga setempat biasa menyebutnya air lantung, yakni air endapan minyak mentah yang keluar dari sumur minyak tua dan berwarna kehijau-hijauan. Air ketheg menjadi bahan olah utama karena mampu memberikan rasa gurih dan asin dalam setiap potongan makanan yang disebut dengan “kupat (ketupat) ketheg” ini. Warnanya pun kuning keemasan.

Perjuangan ekstra, karena untuk memperoleh air ini diperlukan naik turun bukit Desa Giri, yakni lokasi bukit yang merupakan salah satu tempat Kerajaan Giri Kedhaton atau Sunan Giri (salah satu sunan atau wali penyebar agama Islam di tanah Jawa). Dulu ada beberapa sumur tua yang bisa menghasilkan air ketheg. Terakhir, tersisa sebuah sumur di Sekarkurung, Kecamatan Kebomas, serta di Kelurahan Ngargosari. Namun, sumur itu ditutup pemerintah setempat. Maka, jadilah mengambil air ketheg perlu naik turun bukit untuk mendapatkan air itu. Kini, bukit itu sudah tidak bisa memberikan air ketheg secara maksimal. Sumber air ketheg yang berlokasi di bawah Bukit Giri dekat dengan pabrik pengolahan kayu tersebut tinggal sedikit. Debit air ketheg yang keluar kini juga sangat kecil, sehingga tidak bisa langsung mengambil dalam jumlah banyak.


Surahman, adalah salah satu warga yang rutin membuat kupat ketheg. Pria kelahiran 1955 ini membuat kupat ketheg untuk dijual di kawasan wisata religi Sunan Giri. Sebab, meski tergolong produk kuliner yang hampir punah, tapi masih banyak dicari sebagian masyarakat untuk dijadikan santapan, terutama di masa akhir Lebaran. Menurut Surahman, tradisi kuliner kupat ketheg memang selalu ramai pada awal “malam slawe” atau tanggal 25 Bulan Ramadhan sampai dengan H+7 atau tujuh hari setelah Lebaran untuk santapan bersama keluarga.

Proses membuat kuliner ini sama seperti membuat ketupat pada umumnya, namun bahan yang disiapkan berbeda, yakni rendaman airnya menggunakan air ketheg, kemudian isi ketupatnya berasal dari beras ketan, dan bukan beras biasa. Proses pembuatannya, beras ketan dicuci menggunakan air ketheg hingga beberapa kali. Namun proses pencuciannya tidak bisa langsung dilakukan, karena kondisi air ketheg yang baru diambil masih keruh. Sehingga perlu diendapkan selama tujuh hari agar menjadi jernih dan terlihat bersih saat digunakan untuk memasak. Setelah itu, beras ketan dimasukkan ke dalam janur dari pohon kebang yang berbentuk segi empat dan dimasak seperti ketupat pada umumnya. Pohon kebang adalah sejenis lontar yang banyak tumbuh di kawasan Lamongan.

Penyajian kupat ketheg pun berbeda. Bila ketupat biasa disajikan dengan opor ayam, kupat ketheg selalu didampingi dengan parutan kelapa yang disiram cairan gula merah. Rasa gurih kelapa dan manis gula merah selalu menyertai dalam sajian khas ini, mirip seperti jajanan pasar. Efek penggunaan air ketheg ini konon tak hanya pada rasa ketupat. Konon, air ketheg bisa membuat ketupat tahan lama, bahkan bisa bertahan hingga dua pekan.

Makanan ini juga memiliki daya tarik tersendiri. Banyak warga dari Gresik dan luar kota yang mencari kupat ketheg saat Ramadhan dan Lebaran. Penjual kupat ketheg biasanya, dalam sehari bisa mampu memproduksi sekitar 300 buah, dan dijual dengan harga kisaran Rp 2500 per buah, tergantung pula besar kecilnya bentuk ketupat. Namun, dalam jumlah yang tak sebesar seperti pada saat Ramadhan dan Lebaran, kupat ketheg tetap bisa dijumpai pada hari-hari biasa. Yakni, di dekat pemakaman Sunan Giri.

Pemerintah Kabupaten Gresik pun, selalu mendukung tradisi lokal yang ada di wilayah setempat, termasuk kuliner kupat ketheg. Selain kupat ketheg, sebetulnya masih banyak tradisi yang muncul di Kabupaten Gresik saat Ramadhan dan Lebaran, seperti “takziah” atau berkunjung ke makam Wali Songo di Sunan Giri dan Sunan Maulana Malik Ibrahim, sebelum Ramadhan. Kemudian, tradisi “dhamar kurung” atau lampu lampion khas Gresik yang berbentuk kurungan (sangkar burung) di malam Ramadhan, lalu kolak ayam atau kuliner kolak dengan bahan dasar ayam, dan tradisi “bandengan” atau dikenal Pasar Bandeng, yakni lelang bandeng yang digelar oleh Pemkab Gresik. Pemkab Gresik memang tidak pernah melarang adanya banyak tradisi itu, karena ini adalah bagian dari kearifan lokal warga Gresik.

Tak ada literatur sejarah yang menceritakan tentang asal-usul kupat ketheg. Kebanyakan warga Giri menjadikan ketupat ini bagian dari kelengkapan khas merayakan Lebaran Ketupat dan menjamu para tamu yang datang bersilaturahim. Dulunya, warga membawa ketupat ke masjid sebagai tanda syukur atas nikmat yang diberikan kepada mereka. Ini memang sudah merupakan tradisi di Gresik, khususnya di Giri. Tradisi kuliner ini konon merupakan peninggalan Sunan Giri, disamping beberapa peninggalan tradisi lainnya yang masih ada hingga kini di Kabupaten Gresik. Warga pun berharap tradisi ini selalu ada, dan bisa menjadi bagian daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung ke Kabupaten Gresik.


KALEDO DAN PISANG GEPPE SAMBAL KACANG DARI DONGGALA, SULAWESI TENGAH


Pulau Sulawesi juga menyimpan ragam sajian sup yang menggugah selera. Bila anda berkunjung ke Donggala, Sulawesi Tengah, belum lengkap rasanya tanpa mencicipi makanan khasnya, kaledo. Kaledo adalah sup tulang kaki sapi yang di dalamnya terdapat sumsum. Rasanya gurih. Kaledo selama ini dikenal sebagai singkatan dari ‘kaki lembu donggala’. Padahal, sebenarnya kaledo berasal dari bahasa Kaili, bahasa penduduk Palu, yang berarti ‘tidak keras’. ‘Kaki lembu donggala’ hanyalah plesetan masyarakat saja, walaupun memang kaledo adalah makanan yang berasal dari tulang kaki sapi.

Daging dalam kaledo memang melalui proses perebusan yang panjang sehingga tidak keras saat digigit. Kuah kaledo adalah kuah kaldu sup biasa tanpa santan. Kuah bening itu berbumbu sederhana, yakni asam, garam, dan cabai segar. Kaledo juga disajikan dengan sedotan agar penikmatnya bisa langsung menikmati sumsum yang ada di dalam tulang. Kaledo biasa dimakan dengan ubi rebus. Namun saat ini, sudah banyak rumah makan di Donggala yang menyajikan kaledo dengan nasi. Kaledo juga terbagi dalam dua jenis, yaitu dengan tulang dan tanpa tulang.

Dahulu, kaledo adalah salah satu sajian kehormatan di kalangan para bangsawan Palu. Kini kaledo bisa ditemukan dengan mudah di rumah makan-rumah makan di Donggala, Palu, dan kota-kota di Sulawesi lainnya. Rata-rata satu mangkok kaledo dengan tulang dibanderol dengan harga Rp 50 ribu dan kaledo tanpa tulang Rp 35 ribu. Meski lebih mahal, kaledo dengan tulang lebih banyak dicari pecinta kuliner karena sensasi menyedot sumsum yang nikmat.

Makanan khas lainnya dari Donggala yang patut dicoba adalah pisang geppe sambal kacang. Jika di Palu pisang geppe atau pisang goreng sering didampingi sambal terasi dan sambal gula merah, maka di Donggala, pisang geppe dinikmati bersama sambal kacang. Sambal kacang yang disajikan tak ubahnya sambal kacang untuk gado-gado atau sate. Rasanya tak perlu diragukan, perpaduan antara rasa pisang yang manis dan sambal kacang yang gurih nan pedas, membuat ketagihan. Satu porsi pisang geppe sambal kacang cukup bisa langsung dinikmati dengan harga Rp 10 ribu per porsi. 

IGA BAKAR SI JANGKUNG - BANDUNG : Menyantap Iga Bakar Tanpa Tulang Di Atas Gerabah



Meski berada di jalan yang hanya bisa dilalui satu arah, Iga Bakar Si Jangkung selalu ramai dipenuhi pengunjung. Tempat makan ini terletak sebelum Masjid Raya Cipaganti di Jalan Cipaganti, Bandung, di sebelah kiri jalan. Iga bakar kambing menjadi andalan warung makan bercat hijau ini. Rasa gurihnya daging kambing bersatu dengan manisnya kecap. Slamet Hariyanto, sang pemilik, memulai usaha ini sejak masih bujangan, tepatnya tahun 1996. Haryanto memilih usaha kuliner lantaran memang hobi memasak. Orangtuanya sendiri memang sudah berjualan sate. Maka, setelah lulus kuliah, ia nekat membuka usaha kuliner mengikuti jejak orangtuanya. Terbiasa melihat orangtuanya memasak membuatnya tak sulit meniru.

Awalnya, setiap hari ia berkeliling dengan gerobak di sekitar Cipaganti, Sejahtera, sampai Hegarmanah menjajakan sate, gulai, nasi goreng, dan tongseng, mulai pukul 16.00-24.00. Memang perjuangan di awal itu cukup berat dirasakan Haryanto. Sebelum mulai berdagang, ia harus belanja satu kilo daging, tiga kilo beras, dan lainnya, namun dagangannya itu baru habis dalam satu minggu. Saat itu, dalam sehari satenya hanya laku 5-10 porsi saja sudah cukup bagus. Diakui Haryanto, semangatnya sempat menurun dengan kenyataan itu, tapi ia tetap berusaha menerima. Yang penting, asalkan ia bisa makan, dan usahanya bisa tetap jalan. Tidak memikirkan keuntungan sama sekali. Karena merasa selalu gagal saat memulai usaha, orangtua lalu memintanya untuk menikah dulu. Menurut kepercayaan orangtua zaman dulu, menikah bisa melancarkan rezeki. Akhirnya tahun 1998, Haryanto pun menikah.


Sebetulnya ia sempat meminta izin orangtuanya agar uang yang sedianya untuk biaya menikah bisa ia gunakan sebagai modal usaha. Tapi orangtuanya menolak. Setelah menikah, ia hanya diberi modal uang Rp 500.000, yang akhirnya digunakannya untuk membeli perlengkapan dan tenda, melengkapi gerobak yang sudah ia miliki sebelumnya. Haryanto pantang menyerah. Tak lama, ia mulai mangkal di pinggir Jalan Setiabudi dengan nama Si Jangkung. Sejak itulah, pelan-pelan usaha iga bakar Haryanto mulai berkembang. Namun, lagi-lagi cobaan datang. Saat usahanya sudah cukup maju, pemilik kios enggan memperpanjang masa kontrak Haryanto. Terpaksa, ia pindah dan berjualan di pinggir jalan.

Dirazia petugas Satpol PP, gerobak ditendang atau diangkut petugas menjadi pengalaman pahit yang dirasakannya kala itu. Berkat tekatnya yang kuat, Haryanto berhasil bangkit lagi dan berjualan di sebuah kios di Jalan Cipaganti yang sampai sekarang ia tempati. Biaya sewa kios sebesar Rp 500.000 per bulan ia rasakan sangat berat karena usahanya baru merangkak lagi dari bawah. Ia memutuskan untuk berjualan sendirian agar bisa menekan biaya operasional. Sekitar tahun 2000, Haryanto berubah haluan dengan menjual iga bakar sebagai menu andalan. Sementara menu lain hanya pelengkap. Ia sadar, penjual sate sudah terlalu banyak. Sementara warga Bandung senang sekali menikmati kuliner yang aneh-aneh. Oleh karena itu, Hayanto lalu memilih iga bakar yang waktu itu memang belum ada di Bandung. Resep yang ia dapatkan dari orangtua, lalu ia kembangkan sendiri. Ia butuh waktu dua tahun untuk menyempurnakan resep tersebut sampai menjadi seperti sekarang.

Alih-alih menggunakan piring biasa, Haryanto juga berkreasi dengan menggunakan gerabah sebagai wadah iga bakar. Idenya ia dapat dari cara penyajian di warung pecel lele pinggir jalan. Ia pun harus berburu sampai ke Jawa Tengah demi mendapatkan gerabah yang tak mudah pecah bila terkena panas. Meski tak lagi berkeliling, bisa dibilang Haryanto memulai usaha iga bakarnya dari nol. Awalnya, dua kilo iga yang ia sediakan baru habis dalam dua minggu. Dalam sehari paling hanya laku 1-2 porsi. Tapi, pria bertubuh jangkung ini lagi-lagi enggan menyerah. Agar usahanya dikenal lebih banyak orang, ia juga mulai rajin mengikuti pemeran kuliner di Bandung. Pertama kali ia mengikuti pameran di sebuah festival kuliner yang diselenggarakan sebuah perusahaan yang memproduksi kecap merek terkenal. Dari situ Iga Bakar Si Jangkung mulai dikenal orang. Stasiun teve juga mulai meliput sehingga banyak yang penasaran dan mencoba.


Makin lama, Iga Bakar Si Jangkung makin dikenal warga Bandung, walaupun diakui Haryanto kini justru orang Jakarta yang lebih mengenal dan menjadi pelanggannya. Tak hanya Bandung dan Jakarta, pembeli iga bakar Haryanto juga berasal dari Sumatera, Kalimantan, dan sebagainya. Lantaran warungnya yang buka pukul 18.00-24.00 itu tak cukup lagi menampung pembeli yang datang, Haryanto lalu mengontrak kios di sebelahnya. Di Bandung sendiri, Haryanto kini memiliki tujuh cabang dengan 32 pegawai. Dua berbentuk warung yaitu di Cipaganti dan Pasteur, sedangkan sisanya berada di area food court. Dalam sehari, seluruh cabang menghabiskan 100 kg daging sapi dan 50 kg daging kambing. Total sekitar 750 porsi per hari. Iga bakar per porsi beratnya sekitar 200 gram dijual dengan harga Rp 35.000. Ada juga menu lain seperti gulai, tongseng, nasi goreng, dan sop bakar.

Ciri khas iga bakar milik Haryanto adalah cara pembakarannya yang berbeda dari tempat lain. Sebab, gerabah yang menjadi wadah ikut dibakar bersama makanannya. Jadi sejak awal sampai akhir disantap makanan masih tetap panas dan aromanya lebih sedap. Untuk sate juga sengaja disajikan tanpa tusuk dan iga bakar daging sapi disajikan tanpa tulang supaya porsinya lebih banyak dan lebih mudah disantap. Haryanto juga menjamin iga bakar kambing yang dijualnya tidak berbau prengus. Karena ia menggunakan rempah yang kuat dan bumbu dapur. Dagingnya bisa empuk karena dimasak lama sejak pagi sampai pukul 11.00, lalu api dimatikan. Baru sorenya daging diangkat. Sampai sekarang, masih Haryanto sendiri yang membuat bumbunya agar rasanya tetap terjaga. Dan Haryanto juga berencana untuk membuka waralaba warungnya di luar Bandung.


MI KOCOK MANG DADENG - BANDUNG : Kelezatan Dari 15 Macam Rempah Dan Sumsum.



Mi kocok yang satu ini sangat legendaris di Bandung dan kini dikelola oleh generasi ketiga. Mulanya, Usman, orangtua dari Dadeng yang pertama kali berjualan mi kocok dengan cara dipikul berkeliling dari satu kampung ke kampung sekitar tahun 1967. Ketika ayah Dadeng meninggal, kakak-kakak Dadeng lalu meneruskan usaha ini. Namun, setelah salah satu kakaknya vakum, barulah Dadeng yang meneruskan usaha ini dan di tangannya lah usaha ini menampakkan kemajuan berarti. Hingga akhirnya, tahun 1990 Dadeng mangkal di Jalan KH. Ahmad Dahlan 67, Buah Batu, Bandung, di seberang tempat usahanya sekarang. Para pembeli yang sudah ketagihan rasa mi kocok Dadeng akhirnya mendatangi warungnya. Dua tahun kemudian, rumah makan Dadeng pindah ke tempat sekarang. Makin hari, pembeli Mi Kocok Mang Dadeng makin ramai, terutama di akhir pekan dan hari libur.

Jangan heran melihat pembeli rela mengantre menunggu kursi kosong, terutama pada jam makan siang. Lezatnya mi kocok Mang Dadeng tak luput dari 15 macam rempah yang menjadi bahan bakunya, antara lain daun salam, lengkuas, ketumbar, dan sebagainya. Mi kocok sendiri terdiri dari mi gepeng berwarna kuning, tauge, dan potongan kikil yang sangat empuk karena direbus beberapa jam. Bila beruntung, anda juga bisa mendapatkan sumsumnya yang lezat. Sumsum inilah yang menjadi kelebihan mi kocong Mang Dadeng dibanding mi kocok lainnya. Mi kocok biasa dihargai Rp 23.000, bila ditambah sumsum Rp 27.000. Selain mi kocok, Dadeng juga menyediakan sop kaki sapi yang per porsinya dijual seharga Rp 27.000. Kalau ditambah sumsum harganya Rp 30.000.


Lezatnya mi kocok ini rupanya tak hanya dikenal di kalangan warga Bandung dan sekitarnya saja. Pembeli dari luar kota termasuk Jakarta, bahkan dari luar negeri seperti Malaysia, Brunei, Jepang, dan Belanda, tak jarang mengunjungi tempat makan yang sederhana ini. Bulan Juni sampai September, biasanya pembeli mayoritas wisatawan dari Malaysia. Bahkan, pernah ada pembeli dari Jepang yang menawari Mang Dadeng untuk membuka cabang di sana, namun ditolak Mang Dadeng karena terlalu jauh. Sementara di Bandung saja pembelinya sudah banyak. Dalam seminggu biasanya ada publik figur seperti pemain bola dan artis yang menyantap mi kocok ini. Di antaranya Armand ‘Gigi’ Maulana, Laudya Cynthia Bella, dan Paramitha Rusady.

Pada hari Senin sampai Kamis, biasanya tempat ini menghabiskan 700 porsi per hari, sedangkan saat akhir pekan bisa 1000 porsi per hari. Sementara saat Lebaran bisa mencapai 2.500 porsi per hari. Kini, mi kocok yang sering dipesan untuk acara pernikahan, rapat, dan jamuan ini dikelola oleh anak keempat Dadeng, meski Dadeng yang kini sudah berusia 71 tahun masih tetap mengawasi jalannya usaha.

CUANKI SERAYU - BANDUNG : Cuanki Dengan Porsi Isi Besar Dan Rasa Kuah Yang Beda.



Sepintas, cuanki mirip dengan bakso malang. Isinya antara lain tahu putih yang diisi aci, siomay, bakso, pangsit rebus, pangsit goreng, dan bakso goreng. Hanya saja, tak seperti bakso malang, cuanki tidak menggunakan mi kuning. Kuahnya yang gurih pun bening bertabur irisan daun bawang. Di Cuanki Serayu yang terletak di Jalan Serayu, Bandung, masing-masing isi dibuat dalam ukuran cukup besar sehingga menyantap setengah porsi pun terasa kenyang. Selain cuanki, Cuanki Serayu juga menyediakan batagor yang berisikan tahu, siomay kering, pangsit, dan bakso goreng. Bila anda ingin bersantap di sana, mengantrelah di barisan yang biasanya mengular ke luar. Sementara, bila bermaksud dibawa pulang, anda bisa langsung memesan di gerobak di bagian kanan depan.

Meski sebenarnya cuanki lebih nikmat dimakan saat udara dingin karena kuahnya yang panas, pembeli yang datang di Cuanki Serayu tak mengenal waktu. Siang sejak baru dibuka pun cuanki ini sudah mulai diserbu pengunjung. Malah, terkadang setengah jam sebelum buka, mereka sudah mulai mengantre. Saat jam makan siang tiba, warung makan ini kerap tak mampu memuat ‘ledakan’ pengunjung yang berdesakan mencari tempat duduk. Di dalamnya, pembeli seolah tak menggubris panasnya hawa dan sempitnya ruang gerak karena disesaki 50 pengunjung. Selain itu, meski harus mengantre panjang atau duduk di bawah pohon di trotoar di samping atau seberang warung pun, para pembeli juga tak keberatan. Memarkir mobil agak jauh karena di sekitar Cuanki Serayu sudah penuh oleh mobil para pembeli yang datang lebih dulu juga tak masalah.


Penuhnya pembeli memang sudah menjadi pemandangan sehari-hari di Cuanki Serayu. Tak heran meski jam tutupnya pukul 19.00, tempat makan yang buka mulai pukul 11.00 ini biasanya sudah habis pukul 17.00. Terkadang, pembeli yang sudah datang dari jauh pun tidak sempat kebagian karena keburu habis. Menurut para pembeli, rasa kuah Cuanki Serayu yang berbeda dari tempat lain lah yang membuat mereka sering datang ke sini. Siomay dan pangsitnya pun juga tidak keras. Banyak pembeli yang datang dari luar kota seperti Jakarta. Meski di jual di pinggir jalan, tak kurang dari selebritis dan istri pejabat kerap datang mencicipi gurihnya Cuanki Serayu, termasuk Annisa Pohan, menantu mantas presiden SBY. Ada pula yang membeli untuk dibawa ke luar kota seperti Bali dan Pekanbaru.

Setiap hari, tempat makan yang libur setiap Senin pertama di awal bulan ini menghabiskan cuanki dan batagor masing-masing 200-300 porsi. Satu porsi cuanki atau batagor dihargai Rp 15.000, sedangkan separuh porsi Rp 10.000. Selain melayani pengunjung yang datang, Cuanki Serayu juga sering menerima pesanan untuk berbagai acara, mulai dari arsan, ulang tahun, sampai pernikahan. Bila memesan minimal 100 prosi, akan dikirimkan orang untuk melayani para tamu di tempat acara.


Sejak awal didirikan tahun 1997, tempat makan yang kini memiliki 15 orang pegawai ini memang berlokasi di Jalan Serayu, Bandung. Kasno, pria asal Kebumen yang merantau ke Bandung, sebelumnya memang berjualan cuanki dengan gerobak pikul dan mangkal di Jalan Serayu. Lezatnya cuanki buatan Kasno membuatnya semakin laris dan akhirnya ia berhasil memiliki warung sendiri pada 1997 di tempat yang sama. Sejak itulah, cuanki Kasno semakin diburu banyak orang. Penuhnya tempat makan itu lalu membuat Kasno mendirikan cabang di Jalan Mangga, yang juga sering penuh seperti warung yang ada di Jalan Serayu. Ada pula di Jalan Cihapit, tapi bentuknya bukan warung, melainkan dijual dengan gerobak beroda di pinggir jalan. Dari tiga cabang itu, total jumlah pegawai Kasno mencapai 22 orang dengan penjualan sekitar 500 porsi cuanki dan 200 porsi batagor setiap harinya.

KERIPIK TEMPE BENGUK KHAS WONOGIRI : Gurihnya Lebih Dari Keripik Tempe Biasa


Biji benguk yang melimpah di daerah Wonogiri, Jawa Tengah ternyata juga bisa memancing kreativitas warganya. Biji benguk itu diolah menjadi penganan khas seperti keripik tempe. Namanya keripik tempe benguk. Sekilas, cemilan ini hampir serupa dengan keripik tempe dari biji kedelai. Namun, ada rasa berbeda saat kita mencicipinya. Rasa keripik tempe benguk lebih gurih meski sedikit lebih keras. Salah satu keripik tempe benguk yang mudah didapatkan di kota Wonogiri dan sekitarnya adalah milik Tumini. 

Tumini bercerita, sebenarnya usaha keripik tempe sudah dimulai oleh orangtuanya sejak lama. Jadi sejak kecil ia memang sudah akrab dengan olahan keripik tempe. Akan tetapi, Tumini dan sang suami, Rakino, kemudian berinisiatif mencoba mengganti biji kedelai dengan biji benguk untuk diolah menjadi keripik tempe. Sejak tahun 2000, ia pun mulai menawarkan keripik tempe benguk dengan harga Rp 600 saja, karena saat itu masih diecer dan dijual keliling.

Ternyata respons yang datang cukup mengejutkan Tumini. Banyak yang suka dengan keripik tempe benguk kreasinya. Dari semula hanya mengolah keripik tempe benguk sebanyak 2 kilo, Tumini kemudian terus meningkatkan kapasitas produksi. Dan lama kelamaan keripik tempe benguknya justru dijadikan oleh-oleh dan laku keras. Tumini tentu saja amat bangga karena olahan tempe benguk ini kini sudah makin marak di kota Wonogiri. Sekarang memang sudah banyak pengrajin keripik tempe benguk, karena cemilan ini berhasil menjadi pilihan lain oleh-oleh khas Wonogiri selain kacang mete.


Untuk mengolah keripik tempe benguk, Tumini yang berproduksi di Grobog, Wuryorejo, Wonogiri ini perlu menjalani proses yang panjang serta butuh kesabaran karena memang cukup rumit. Biji benguk harus direndam selama lima hari lima malam baru bisa dicampur dengan adonan tepung beras. Kemudian ditambahi bumbu untuk dijadikan keripik tempe. Sampai kini produksi olahan keripik tempe benguk Tumini masih terus meningkat. Setidaknya ia memproduksi hingga 15 kilo setiap harinya bahkan bisa lebih hingga dua kali lipat saat libur hari besar. Tumini menginginkan, ke depannya keripik tempe benguk ini tidak hanya memiliki rasa yang original saja, tetapi juga ada rasa lainnya sebagai inovasi. Sekarang Tumini menjual keripik tempe benguk olahannya dengan harga yang masih terjangkau, mulai Rp 10 ribu hingga Rp 18 ribu untuk ukuran mika bulat yang besar.

Salah satu kendala yang dihadapi Tumini saat mengolah cemilan khas Wonogiri ini adalah ketika biji benguk tidak panen. Meskipun sebetulnya keberadaannya cukup melimpah di Wonogiri, terlebih saat musim panen, tetapi pernah pula ia mengalami kesulitan mendapatkan biji benguk. Kalau sudah begitu, mau tak mau ia mengganti produksinya dengan keripik tempe biasa. Hasil olahan keripik tempe benguk Tumini tak hanya dipasarkan di wilayah Wonogiri saja, tetapi sudah tersebar hingga Sukoharjo. Selain dengan cara titip jual di toko oleh-oleh di Pasar Kota, ia juga menjualnya ke beberapa pasar seperti Pasar Eromoko dan Ngadirojo. Tumini bersyukur, keripik tempe benguk olahannya banyak yang menyukai.

KACANG METE BU DHARMO PUTRO DAN PENGANAN KHAS WONOGIRI LAINNYA



Siapa yang tidak kenal cemilan kacang mete? Rasanya yang gurih membuat cemilan ini sebagai salah satu cemilan yang disukai. Nah, bagi yang tengah berkunjung ke kota Wonogiri, Jawa Tengah, tak afdol apabila tak membawa kacang mete sebagai oleh-oleh. Pasalnya, Wonogiri memang dikenal menghasilkan mete yang berkualitas. Adalah Bekti Rahayu, perempuan tengah baya asli Wonogiri, yang dikenal memiliki kacang mete goreng yang istimewa. Dengan merek mete Bu Dharmo Putro, kacang mete goreng hasil olahan Bekti pun siap disantap langsung oleh pembeli.

Bekti bercerita awalnya ia hanya menjual kacang mete mentah saja, tetapi sekarang di tokonya juga sudah disediakan yang digoreng. Jadi pembeli tinggal memilih saja. Harga kacang mete mentah Rp 110 ribu per kilo, sedangkan yang matang saat ini Rp 115 ribu per kilonya. Soal rasa, kacang mete Bu Dharmo Putro menawarkan sesuatu yang berbeda. Gurihnya beda dengan kacang mete lain. Istri Darsito ini mengaku bumbu yang ia gunakan sebetulnya sama saja. Tetapi mungkin cara menggoreng dan mengolah sejak dari kacang mentah yang berbeda. Ia selalu mengupas dan langsung menggoreng, hingga kacangnya jadi lebih gurih dan renyah. Selain itu, Bekti juga memilih menggoreng dengan menggunakan kayu bakar. Rasanya memang jadi lebih berbeda.


Tak mengherankan jika produksi kacang mete Bu Dharmo Putro kini bisa mencapai 4 kuintal. Pesanan rutin datang dari luar kota, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Cirebon, Semarang, dan Bali. Tak tanggung-tanggung, kacang mete buatan Bekti ini juga sudah merambah hingga ke pasar luar negeri seperti Negeri Sakura Jepang dan Thailand. Bermula dari adik iparnya yang memiliki pasangan orang Jepang, saat datang ke Wonogiri dan mencicipi kacang mete buatannya sepertinya jadi ketagihan. Kemudian melalui bisnis biro travel khusus untuk orang Jepang, adik iparnya itu mulai memasarkan di Jakarta, dan berlanjut sampai masuk ke salah satu pasar di Jepang.

Tak hanya menawarkan kelezatan kacang mete, perempuan kelahiran Wonogiri 9 Januari 1953 ini juga mengenalkan penganan lokal lainnya. Diantaranya geti, karak, ampyang, tape ketan, emping manis, serundeng, dan sambel pecel. Semuanya diproduksi langsung. Sejak kecil Bekti memang sudah suka memasak dan sekalian diajari berdagang oleh orangtuanya. Lewat usahanya ini ia juga ingin mengenalkan dan mempertahankan cemilan tradisional Wonogiri. Salah satu penganan unik siap santap dan sekarang sudah jarang dimasak adalah cabuk wijen. Karena sudah sulit dicari, maka beberapa pelanggan yang mungkin kangen dengan cabuk wijen lalu meminta Bekti untuk membuatkan. Dan ternyata benar, cabuk wijen buatannya itu laku keras dan banyak peminatnya.


Setiap hari, Bekti memproduksi cabuk wijen hingga 150 bungkus, masing-masing seharga Rp 2 ribu per bungkus. Makanan ini serupa dengan botok atau pepes. Enaknya disantap dengan nasi. Karena memang sudah jarang yang membuatnya, maka Bekti ingin mengenalkannya kembali, sekaligus memelihara kuliner tradisional Wonogiri. Permintaan memang meningkat, terlebih bila menjelang Lebaran. Ia bisa membuat cabuk wijen sampai tiga kali lipat, dan itu pun masih sering kurang karena saking banyaknya yang mencari. Semua hasil olahan Bekti langsung dipasarkan di beberapa tempat oleh-oleh miliknya dan keempat anaknya yang tersebar di kota Wonogiri.

MOST RECENT