IKAN KAYU (KEUMAMAH) CAP KAPAL TSUNAMI : Oleh-Oleh Khas Banda Aceh.


Keumamah alias ikan kayu merupakan salah satu ikon kuliner di kota Banda Aceh. Di kota ini, anda bisa menemukan banyak pengrajin keumamah dan bisa membawanya sebagai buah tangan. Keumamah berbahan baku ikan tongkol yang dikeringkan dengan cara dijemur kemudian direbus dan diasap. Ikan ini pun siap diolah dan disajikan sebagai lauk yang sungguh sedap. Salah satu produksi keumamah yang cukup terkenal adalah keumamah milik Fauziah dengan merek Cap Kapal Tsunami. Fauziah yang bangkit dari keterpurukannya setelah bencana tsunami mendapatkan pelatihan mengolah keumamah yang dulunya banyak dikerjakan oleh kaum laki-laki.

Setelah mendapatkan pelatihan, bermodal Rp 500.000, Fauziah pun mulai memproduksi keumamah dalam bentuk kemasan. Usaha pengolahan ikan kayu dalam bentuk kemasan ini memang pioner, sebelumnya ikan kayu masih dalam bentuk batangan dan dengan ukuran yang cukup besar. Menurut Fauziah, orang Aceh sangat menyukai makanan ini. Dari situ, ia pun melihat peluang membuatnya menjadi lebih praktis dan menjadikannya sebagai oleh-oleh. Fauziah mengiris kecil-kecil ikan kayu, jadi pembeli tinggal mencuci dan memasaknya. Kalau kreatif, bisa dicampurkan ke berbagai masakan, tidak melulu dibuat asam keumamah, tetapi juga bisa dicampurkan pada oseng tahu dan tauge, atau campur teri dan kacang.

Untuk mendapatkan keumamah Cap Kapal Tsunami, anda bisa membelinya di gampong Lampulo di depan kompleks wisata Kapal Atas Rumah. Keumamah milik Fauziah kini juga sudah berkembang dan melakukan banyak inovasi. Salah satunya adalah keumamah crispy yang dikemas rapi dalam kotak berukuran 100 gram dan dibanderol dengan harga cukup murah, yaitu mulai dari Rp 30.000.

MIE RAZALI - BANDA ACEH : Citarasa Mie Khas Aceh Sepanjang Masa.


Pencinta kuliner mie tentu tak akan melewatkan untuk menikmati kelezatan mie Aceh yang terkenal. Uniknya, di kota Banda Aceh, tak ada lagi sebutan mie Aceh, melainkan langsung merujuk kepada lokasi atau nama pemiliknya, misalnya Mie Razali, Mie Ayah Iy, Mie Lala, dan masih banyak lainnya. Nama Mie Razali adalah yang pertama selalu menjadi rekomendasi bagi para pendatang. Berlokasi di kawasan kuliner malam Peunayong, tepatnya di jalan Panglima Polem No. 83-85, Mie Razali menjadi spot kuliner yang wajib disinggahi. Beberapa bahkan menyebutkan, tidak sah rasanya berkunjung ke Banda Aceh sebelum mencicipi kuliner Mie Razali ini.

Pamor Mie Razali semakin naik setelah Presiden Jokowi datang dan membuktikan sendiri kelezatan olahan mie ini. Ya, tempat makan ini memang seakan tak pernah sepi dari pengunjung. Ketika memasuki tempat makan ini, pemandangan pertama yang terlihat adalah keramaian pengunjung. Selain itu, aroma tumisan rempah khas Aceh yang menyeruak hidung pun terasa menggoda lidah. Kelezatan Mie Razali yang memiliki slogan "Citarasa Sepanjang Masa", ini tampaknya memang bukan isapan jempol semata. Mie yang digagas oleh sang pemilik, Razali, ini sudah beroperasi sejak tahun 1967 dan menjadi usaha keluarga turun temurun. Bahkan cabangnya kini tersebar di kota seperti Aceh Besar dan Aceh Tengah.


Tempat makan ini menyediakan tiga jenis penyajian mie, seperti mie rebus, mie goreng, dan mie goreng basah atau yang dikenal seperti mie nyemek. Sedangkan untuk isiannya, Mie Razali menyediakan aneka isian yang variatif, mulai dari ayam, daging, udang, jamur, cumi-cumi, dan kepiting. Tak ketinggalan emping sebagai pendamping mie, sehingga semakin komplet. Sama seperti mie Aceh yang lain, bahan mie yang digunakan adalah mie lidi berbentuk silinder menyerupai spageti. Apabila anda menyukai porsi besar, maka Mie Razali merupakan pilihan yang tepat. Tetapi jika anda tak suka porsi besar, anda bisa memesannya dalam porsi setengah atau membaginya dengan teman makan anda. Mie yang dibumbui dengan rempah khas ini berwarna merah mengkilat. Tapi tak perlu khawatir, karena ternyata tak terlalu pedas seperti kelihatannya.

Harga yang ditawarkan juga sangat bersahabat. Untuk mencicipi mie lezat ini, anda hanya perlu menyiapkan kocek mulai dari Rp 10.000. Seporsi mie kepiting atau mie campur yang terdiri dari berbagai isian, anda hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 40.000. Sebagai pelengkap disediakan berbagai sajian minuman dingin dan jus, seperti jus terong belanda, avokad, jeruk, mangga dan berbagai buah lainnya yang juga harganya tidak membuat kantong anda bolong. 

RUMAH MAKAN SYIAH KUALA - BANDA ACEH : Sajian Kuliner Tradisi Aceh.


Berlokasi di kawasan Jalan Syiah Kuala, Lamdingin, Banda Aceh, Rumah Makan Syiah Kuala menawarkan cita rasa makanan tradisional yang terinspirasi dari masakan Aceh dan sekitarnya. Bangunan rumah makan yang khas beserta suasana yang asri menambah kenikmatan menyantap sajian tradisional yang ditawarkan. Pelayanan yang diberikan pun terhitung cepat, pengunjung tak perlu menunggu lama untuk langsung mencoba kuliner yang disajikan.

Ada banyak varian menu makanan, dan konsumen bisa memilih mana yang disukai. Mulai dari ayam kampung panas, asam keumamah, plik u, kari kambing muda khas Aceh Rayeuk, asam udang Ie, asam camplie, asam kepiting keumamah gulai kampoeng, asam teri tepep, ikan paya tangkap goreng, daging bakar cincang, daging goreng garing, ayam tangkap, dan masih banyak menu lain yang pasti akan menggoyang lidah. Dari semua sajian tersebut, menu andalan yang selalu dicari para konsumen adalah asam keumamah. Menu ini menjadi favorit melengkapi menu lain, seperti ayam kampung goreng. Ayam goreng ini disajikan dengan daun kari dan daun pandan yang sudah dibumbu dan digoreng renyah. Satu lagi yang tidak ketinggalan sering dipesan adalah kari kambing muda.

Semua masakan diolah dengan cita rasa tradisional khas Aceh dan sekitarnya. Keumamah, yang memang terkenal dari Aceh dan menjadi ikon kuliner wilayah setempat, adalah ikan kayu atau ikan tongkol yang dimasak dengan cara pengasapan. Diolah bersama kecombrang, dengan bumbu bawang putih sedikit, asam, serta cabai hijau, menjadikan asam keumamah nikmat tak hanya sebagai pelengkap, tetapi juga menjadi lauk utama. Tak hanya melayani konsumen di rumah makan, rumah makan ini juga melayani pesan antar. Menu ayam tangkap adalah menu spesial khusus untuk pesanan, karena membuatnya memang harus dibumbui lagi.

Soal harga, lumayan terjangkau untuk semua kalangan. Harga di rumah makan ini terhitung murah, mulai Rp 10.000 per porsi, jadi bisa dinikmati semua orang. Dari pengusaha, pekerja kantoran, sampai mahasiswa, bisa menikmati kelezatan masakan Rumah Makan Syiah Kuala. Kari kambing yang paling mahal pun hanya dihargai Rp 20.000 seporsi. Tak heran, tempat ini selalu menjadi rekomendasi dan dipadati para pelanggan dan pendatang. Rumah Makan Syiah Kuala sudah buka sejak 2014, dan sekarang penikmatnya semakin bertambah. Semua menu otentik dan original khas Aceh dari resep sang nenek pemilik rumah makan yang akan terus dilestarikan. 

TEH TALUA : Minuman Khas Ranah Minang.


Berkunjung ke Sumatera Barat tidak lengkap rasanya jika tidak mencicipi berbagai kuliner. Masakan Minang (atau lebih dikenal masakan Padang) memang sudah terkenal kelezatannya. Tak hanya masakan, minuman asal Minangkabau pun juga enak untuk dinikmati. Salah satunya adalah teh talua (teh telur). Teh talua adalah minuman tradisional warga Minang. Sesuai dengan namanya, bahan dasar minuman ini selain air adalah teh dan telur.

Teh talua lebih enak dinikmati pada malam hari atau pagi hari, kendati demikian tak masalah pula jika dikonsumsi siang hari. Selain nikmat, minuman ini juga dipercaya memberi manfaat bagi tubuh, di antaranya meningkatkan kebugaran. Sebenarnya tidak ada resep yang rahasia dari pembuatan teh talua ini. Namun, kekurangpiawaian meracik bahan-bahannya akan membuat rasa teh talua menjadi aneh dan berbau anyir.


Bahan-bahan yang diperlukan adalah satu butir telur ayam kampung atau bebek, satu atau satu setengah sendok gula, satu atau dua sendok susu kental manis, dan satu iris jeruk nipis. Sedangkan teh yang digunakan adalah teh bubuk halus. Namun, teh biasa pun juga sebenarnya bisa digunakan, tapi hasilnya akan berbeda jika kita menggunakan teh bubuk halus. Mula-mula teh direbus hingga mendidih. Sambil menunggu air mendidih, kocok kuning telur dan gula hingga agak mengembang atau sedikit berbusa. Setelah air rebusan teh mendidih, tuangkan ke adonan yang sudah mengembang tadi. Aduk hingga merata dan tambahkan irisan jeruk nipis dan susu. Dan, teh talua pun siap disajikan.


Teh talua asli Minang biasanya terdiri dari tiga atau empat lenggek (lapisan). Bagian dasar gelas berwarna putih yang merupakan susu kental manis, tingkat ke dua teh berwarna cokelat, dan lapisan paling atas adalah busa berwarna putih. Untuk teh talua empat lenggek biasanya pada bagian cokelat ada sedikit perbedaan, cokelat tua dan cokelat muda. Orang asli Minang biasanya bisa menilai, teh talua itu enak atau tidaknya, dari ada atau tidak lenggeknya.

SOTO ROXY H DARWASA - JAKARTA, Bertahan Sejak 1948.


Soto merupakan kuliner tradisional berkuah, berbahan dasar daging, yang banyak penggemarnya. Soto bisa ditemui di hampir seluruh daerah, tentunya dengan kekhasan masing-masing. Di Jakarta, salah satu soto legendaris yang menjadi favorit adalah Soto Roxy H Darwasa yang telah ada sejak 1948. Uniknya, jika biasanya soto disajikan di atas mangkuk, Soto Roxy disajikan di atas piring. Pemilik Soto Roxy H Darwasa, Iskandar Zulkarnaen, mengatakan, penyajian yang tidak biasa tersebut menjadi ciri khas utama soto yang berlokasi di Jalan Tidore, Roxy, Jakarta Pusat ini. Selain itu, Soto Roxy juga dilengkapi dengan nasi dan sambal yang semuanya disajikan di atas piring.

Menurut Iskandar, tak hanya menjaga keaslian, Soto Roxy juga selalu mempertahankan cita rasa dan kualitas. Soto ini mengandalkan kekuatan kaldu daging dan bumbu tanpa menambahkan perasa buatan. Setiap hari 80 kilogram daging dan iga direbus selama dua sampai tiga jam untuk menghasilkan kaldu yang baru. Kaldu yang tersisa setelah semua soto terjual habis langsung dibuang dan tidak dipakai kembali keesokan harinya. Untuk bumbu, Iskandar membuat sendiri yang nantinya disatukan dengan kaldu, santan, dan garam. Sedangkan, sambal pendamping soto dibuat dari cabai rawit hijau, cabai rawit merah, dan cabai keriting mentah yang dihaluskan. Sementara, bumbu sama seperti soto lain, terdiri dari rempah-rempah, lengkuas, jahe, bawang merah, bawang putih. Yang membedakan hanya takarannya saja.


Daging sebagai komponen utama soto juga dipilih hanya daging lokal yang berkualitas. Iskandar mengaku pernah beberapa kali mengganti pemasok daging karena tidak menyediakan daging yang bagus. Ia juga tidak pernah menumpuk daging untuk dipakai di hari berikutnya. Daging didapat setiap hari dari pemasok dalam kondisi segar hingga berpengaruh pada tekstur dan rasa setelah diolah.

Soto Roxy menyediakan beragam pilihan daging dan jeroan, seperti daging goreng, daging rebus, sengkel, paru, lidah, babat, usus/iso, kikil, dan tulang muda. Jika ingin mencoba semuanya, pembeli bisa memesan soto campur dengan memilih daging atau jeroan sesuka hati. Iskandar menjelaskan, soto daging goreng merupakan varian soto yang paling cepat habis. Soto daging goreng digemari pelanggan karena tekstur dagingnya yang empuk dengan campuran bumbu yang khas. Daging goreng itu sebenarnya adalah daging rebus yang digoreng lagi. Hanya, Soto Roxy tidak dilengkapi dengan tomat, kentang, dan acar layaknya soto pada umumnya. Soto di sini cukup ditaburi emping, bawang goreng, dan daun bawang.


Soto Roxy dirintis oleh H Darwasa sejak pasca kemerdekaan Indonesia dan dijajakan dengan cara dipikul atau didorong di atas gerobak. Baru beberapa puluh tahun kemudian keempat anaknya meneruskan usaha soto H Darwasa tersebut. Anak-anak H Darwasa berhasil memajukan usaha soto ini dan membuka warung tenda di Roxy. Di bawah nama Soto Roxy H Darwasa, soto tersebut semakin digandrungi pelanggan sampai akhirnya menyewa tempat permanen di dekat lokasi yang sama.

Iskandar sendiri sebagai generasi ketiga berhasil membuka empat cabang Soto Roxy di berbagai tempat setelah tiga tahun mengelola Soto Roxy. Cabang-cabang tersebut di antaranya berada di Gading Serpong, Alam Sutera, Taman Surya, dan Kelapa Gading. Tujuannya membuka cabang, karena melihat kapasitas di Roxy yang sudah terlalu penuh. Buka sejak jam enam pagi, sampai jam dua siang sudah habis. Akhirnya banyak pelanggan yang memberi masukan untuk membuka cabang di beberapa daerah. Iskandar menargetkan dapat membuka tiga cabang setiap tahun. Ia mengamati antusiasme pelanggan cukup besar terhadap cabang-cabang yang sudah didirikan. Salah satu penyebabnya, selain rasa yang tidak pernah berubah, kedai cabang juga menyediakan layanan pesan antar untuk radius 5 km.


Dengan harga jual Rp 30 ribu per porsi, Soto Roxy menyediakan daging yang melimpah di setiap piringnya. Saat ini kedai Soto Roxy di Roxy per harinya bisa menjual 400 porsi dengan omzet mencapai Rp 12 juta dalam satu hari.


PETAI : Aroma Dan Cita Rasa Yang Menggugah Selera.


Ukuran mata petai memang tak lebih besar dari koin Rp 500. Akan tetapi, dari ukuran yang kecil tersebut, petai mampu menghasilkan aroma dan cita rasa yang menggugah selera. Meski tak semua orang menyukai aroma yang dimiliki petai, petai tetap menjadi salah satu jenis polong-polongan bernilai ekonomi luar biasa dan banyak dicari. Di beberapa wilayah Indonesia, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatra Barat, petai merupakan salah satu 'primadona' yang cukup populer untuk dijadikan sebagai hidangan pelengkap hingga hidangan utama.

Yang cukup menarik dari petai ialah jumlah varietasnya yang tak terhingga. Petai berasal dari biji sehingga tiap biji petai yang ditanam akan menghasilkan jenis petai yang berbeda pula. Oleh karena itu, meski semua petai terlihat hampir serupa, pada dasarnya petai-petai yang ada di pasaran berasal dari jenis yang berbeda-beda. Jadi, jika ada sejuta biji yang ditanam, ada sejuta varietas petai yang berbeda. Kecuali, jika petai dikloning dengan dicangkok atau diokulasi. Dia akan sama persis dengan 'ibu'nya.

Meski petai memiliki jumlah varietas yang sangat beragam, ada beberapa 'patokan' dalam mengategorikan petai yang umumnya jarang diperhatikan masyarakat. Patokan ini setidaknya mengerucutkan varietas-varietas petai ke dalam tiga kelompok besar, yaitu petai normal, petai padi, dan petai super. Petai normal merupakan petai yang umumnya ditemukan di pasaran. Jumlah mata petai yang dimiliki oleh jenis ini hanya berkisar antara 12 dan 15 buah mata dalam satu papan petai. Sedangkan, petai padi memiliki ciri khas berupa panjang papan yang lebih pendek dengan jumlah mata petai paling banyak 11 buah. Meski hanya sedikit, mata petai padi memiliki ukuran yang cenderung besar. Kelompok ketiga, yaitu petai super, dapat dikenali melalui jumlah mata petai yang lebih banyak dari petai pada umumnya. Dalam satu papan, petai super dapat memiliki jumlah mata di atas 20 buah.


Selain itu, petai juga dapat dikenali berdasarkan kualitasnya. Petai yang berkualitas memiliki papan yang lurus, panjang, dan bermata banyak. Sedangkan, petai 'kelas 2' memiliki papan yang cenderung melintir. Papan petai yang melintir menunjukkan bahwa petai tersebut terlalu muda saat dipetik atau memang dari awal memiliki 'bakat' yang tidak begitu baik. Sedangkan dari faktor rasa, variasi petai ada yang kecil menyengat, ada yang besar tetapi rasanya ringan, dan ada yang cenderung pahit atau manis. Semuanya tergantung selera.

Di Indonesia, pada dasarnya, ada sekitar satu atau dua jenis petai yang telah dilepas sebagai varietas unggul nasional. Sayangnya, jenis petai ini tidak dikembangkan dan dibibitkan secara massal sehingga hanya menjadi 'jagoan lokal' saja. Oleh karena itu, mantan direksi Taman Buah Mekarsari Dr Ir Mohammad Reza Tirtawinata MS, yang juga dijuluki Ayah Asuh Bibit Petai, saat ini terdorong untuk mencari petai-petai unggul dari berbagai wilayah di Indonesia untuk kemudian diokulasi induknya. Dengan begitu, peluang untuk mendistribusikan petai berkualitas ke berbagai wilayah di Indonesia akan terbuka. Pada tahun 2014, misalnya, pria yang akrab disapa Reza ini pernah mendatangi sebuah desa kecil di Kalimantan Barat bernama Bale Karangan. Tujuan utamanya kala itu sebenarnya ingin berburu durian di pasar kaget yang diselenggarakan di desa tersebut setiap pekan, yaitu Pasar Pekan. Akan tetapi, saat sedang melakukan pencarian durian, Reza menemukan petai dengan tandan yang besar, jumlah papan yang banyak dengan bentuk yang lurus, serta jumlah mata petai yang mencapai 20. Ia mengaku sebelumnya tidak pernah melihat petai sebaik itu di Pulau Jawa. Sayangnya, penjual petai tidak mengetahui di mana letak pasti pohon petai yang berkualitas itu. Sang penjual hanya mengetahui bahwa petai tersebut berasal dari hutan. Karena tak berhasil menemui pohon induknya, Reza pun segera memborong sekitar 50 papan petai unggul tersebut untuk ditanam dari bijinya, meski bila menanam dari biji berisiko berubah bentuk, tidak sama dengan induknya.


Yang menjadi tantangan, menurut Reza, ialah memperbanyak bibit petai yang berkualitas karena belum ada pengusaha yang tertarik untuk fokus menjadi pembibit petai. Padahal, untuk memenuhi pasar Jakarta saja, diperlukan sekitar seribu hingga 10 ribu pohon petai kolonal atau hasil kloning dari induk petai berkualitas. Penanaman petai hasil kloning atau okulasi ini kemudian memerlukan waktu lima-10 tahun hingga membuahkan hasil yang memadai. Sejauh ini, alumnus Institut Pertanian Bogor ini menemukan ada beberapa daerah yang memiliki petai berkualitas super. Petai dari Gunung Karang, Pandeglang, misalnya, memiliki 21 mata petai dalam satu papan. Selain di Pandeglang, petai-petai yang berkualitas juga Reza ditemui di Lampung serta Kalimantan Barat. Petai-petai tersebut dapat tumbuh dengan baik karena ditunjang oleh beberapa faktor penting. Salah satunya, petai ditanam dengan ketinggian ideal, yaitu 200-800 meter di atas permukaan laut. Selain itu, petai-petai di daerah tersebut juga mendapat curah hujan yang cukup. Menurut Reza, daerah Indonesia bagian barat, seperti Sumatra, Kalimantan, dan Jawa, yang curah hujannya merata setiap tahun sangat bagus untuk ditanam petai. Tapi bila di NTB, NTT, akan menjadi kurang bagus karena daerahnya terlalu kering. Dari petai-petai unggul ini, Reza kemudian melakukan okulasi pada induk petai untuk memperbanyak bibitnya. Akan tetapi, jika ia tidak berhasil menemukan induk pohon dari petai berkualitas yang ia temukan, ia akan mencoba menanam petai tersebut dari biji meski kemungkinan besar petai baru yang akan dihasilkan tidak sama persis kualitasnya.

Tiap daerah pun memiliki rasa petai yang cenderung berbeda. Rasa petai di Jawa Barat cenderung lebih lezat jika dibandingkan dengan petai dari daerah lain. Salah satu alasannya, petai di Jawa Barat cenderung dipanen ketika berusia tua sehingga terasa segar dan beraroma lebih menggugah. Terlepas dari jenisnya yang beragam, semua petai cocok untuk diolah dalam berbagai metode memasak. Hanya, memasak petai perlu memperhatikan waktu karena petai akan berkurang kelezatannya jika dimasak terlalu lama. Idealnya, petai dimasukkan paling akhir dalam proses mengolah masakan. Dalam makanan berkuah, misalnya, petai lebih baik dimasukkan saat lima menit sebelum masakan matang. Selain itu, pemilihan bumbu yang tepat juga penting dalam pengolahan petai. Meski pada dasarnya semua bumbu cocok untuk dikombinasikan dengan petai, namun disarankan agar petai disandingkan dengan bumbu yang kuat, seperti terasi hingga cabai. Jika bumbu terlalu ringan, cita rasa bumbu akan kalah dengan petai. 


Meski sebagian orang tidak menyukai aromanya, petai pun sebetulnya menyimpan khasiat yang baik bagi kesehatan. Salah satunya, petai mengandung serat yang tinggi sehingga baik untuk kesehatan perut. Meski begitu, juga tidak disarankan petai disantap terlalu sering. Pasalnya, petai mengandung zat besi yang cukup tinggi sehingga lebih baik disantap dengan tidak berlebihan. Aroma yang kuat memang tidak bisa dipisahkan dari petai, akan tetapi, setidaknya ada dua cara sederhana untuk meminimalkan aroma kuat dari petai ini. Salah satunya ialah dengan mengkonsumsi buah setelah menyantap petai. Cara lainnya, ialah dengan menyeruput minuman yang telah diberikan daun mint.

WISATA KULINER SORONG - PAPUA BARAT : Menikmati Sajian Hidangan Laut Di Pinggir Pantai.

Pintu gerbang tanah Papua Barat, begitulah sebutan bagi kota Sorong. Memiliki luas 1.105 km2, kota Sorong terbagi menjadi 10 distrik setingkat kecamatan. Tak hanya menawarkan keindahan alam yang luar biasa, wisata kuliner di Sorong pun ternyata tak kalah menggugah selera. Berbagai menu menarik siap dicicip, mulai aneka seafood sampai kuliner tradisional seperti papeda.

SEAFOOD TEMBOK BERLIN


Pencinta makanan laut sebaiknya tidak menyia-nyiakan kesempatan mencicipi hidangan laut dari kota Sorong yang luar biasa. Hidangan laut di kota minyak ini memang dikenal lebih segar dan jauh dari polusi akibat pencemaran laut. Untuk memburu aneka hidangan laut yang lezat seperti ikan bakar, cumi, kepiting, kerang, dan hasil laut lainnya, salah satu pilihan tepat adalah ke pantai Tembok Berlin. Berlokasi tak jauh dari pusat kota Sorong, pantai Tembok Berlin yang juga dikenal dengan nama pantai Doflor ini pada malam hari menjajakan kuliner hidangan laut yang sungguh lezat. Deretan warung tenda pinggir pantai ini berlomba-lomba menyajikan menu seafood dengan harga relatif murah jika dibandingkan dengan harga seafood di kota-kota besar.

Masing-masing warung makan yang berada di pantai Tembok Berlin juga menyajikan keunggulannya pada pelanggan. Ikan-ikan segar sengaja disusun rapi berjajar agar para pengunjung bisa melihat dan memilih langsung ikan segar yang akan diolah dan disajikan. Bagi anda yang baru pertama kali tiba di lokasi ini, tak perlu ragu dan bingung hendak memilih warung makan yang mana. Rata-rata semua warung menawarkan sajian menu yang hampir sama. Namun, ada baiknya anda datang lebih cepat, karena tak hanya wisatawan yang memadati lokasi ini, tetapi juga warga Sorong. Biasanya warga Sorong memilih makan malam seraya menikmati deburan ombak pantai Tembok Berlin.


Beberapa warung makan favorit seperti Warung Miranda memiliki menu kepiting saus asam manis yang lezat dengan harga terjangkau. Untuk seporsi kepiting di warung ini harga yang ditawarkan mulai dari Rp 50.000. Warung lain yang juga menawarkan sajian yang tak kalah nikmat adalah Pojok Madiun. Letaknya berdampingan dengan Warung Miranda. Pojok Madiun juga menawarkan ikan bakar dengan sambal yang dikenal pedas dan nampol. Selain kedua warung tadi, warung lain yang juga ramai dipenuhi pengunjung adalah Warung Malioboro. Anda tak perlu khawatir soal harga. Semua harga yang ditawarkan di lokasi makan ini masih terjangkau untuk kantong. Memang, beberapa hidangan laut dibanderol cukup mahal, terutama menu ikan berukuran besar. Tak heran terkadang terjadi tawar menawar antara pengunjung dengan pemilik warung. Biasanya harga khusus diberikan kepada pengunjung dari luar kota yang ingin menikmati sensasi hidangan laut di kota Sorong.

Salah satu daya tarik lokasi makan Pantai Berlin adalah rasa ikan bakar yang berbeda, padahal hanya dimasak dengan bumbu sederhana. Ikan direndam dalam air santan dan jeruk nipis sebelum dibakar dan diolesi mentega serta bumbu bakar sederhana. Berbagai jenis ikan yang disediakan antara lain ikan baronang, kerapu, bubara, kakap merah, dan kakap putih, serta bawal. Hampir semuanya laris dipilih pengunjung. Salah satu pemilik warung, Rudi, yang berasal dari Pati, Jawa Tengah, mengaku setiap hari setidaknya menghabiskan 50 hingga 60 ekor ikan di warungnya. Bahkan, pada malam minggu atau pada hari libur, Rudi menyediakan hingga 100 ekor ikan untuk disantap para pengunjung.


Saat ditanya apa rahasianya bisa menyajikan menu ikan yang maknyus, Rudi mengaku tidak memiliki resep khusus. Yang jelas, ikan yang ia tawarkan adalah ikan segar, sehingga rasanya jadi lebih nikmat. Tak mau kalah, Rudi pun mempromosikan harga yang dibanderol semua warung makan di pantai Tembok Berlin. Harganya terhitung murah. Dengan uang Rp 40.000 saja kita sudah bisa menikmati lezatnya hidangan laut Sorong.

PISANG GORENG DAN KELAPA MUDA


Kawasan tepi laut di sepanjang jalan raya dan dibatasi tembok pembatas setinggi 3 meter dan lebar sekitar 50 cm ini berfungsi sebagai tanggul yang mencegah luapan air laut saat pasang. Namun, lokasi ini juga menjadi lokasi pilihan untuk melihat keindahan tenggelamnya matahari. Tak hanya warga lokal yang sering memadati pantai Tembok Berlin, tetapi juga para wisatawan. Tak cuma sunset yang dicari para pengunjung dan warga lokal di pantai ini, mereka juga berburu aneka gorengan yang disajikan dan dinikmati bersama sambal sagu beserta air kelapa muda yang segar.

Di pantai ini, gerobak penjaja aneka gorengan berjajar di sepanjang pantai. Biasanya, pantai baru mulai ramai di sore hari menjelang matahari terbenam. Meski menunya hanya gorengan seperti pisang goreng, ubi goreng, tempe mendoan, atau tahu, tapi ketika dicocol dengan sambal sagu, ternyata paduan rasa yang dihasilkan sungguh menerbitkan air liur. Sambal sagu adalah sambal yang dicampur tepung sagu dengan tekstur agak sedikit kental, dicampur ulekan cabe dan daun jeruk yang menyegarkan lidah. Tak heran jika banyak pengunjung yang akhirnya ketagihan mencoba hidangan ringan ini.


Harga yang dipatok untuk hidangan ringan ini sangat terjangkau kantong. Aneka gorengan dijual dengan harga sekitar Rp 1000 per buah. Untuk melengkapi gorengan dan sambal sagu, pengunjung bisa memilih minuman kelapa muda sebagai penyegarnya. Pedagang menawarkan kelapa muda di lokasi pantai Tembok Berlin dengan harga Rp 10.000. Apabila anda ingin mendapatkan lokasi terbaik, sebaiknya beramah tamahlah dengan penjual. Biasanya, para penjual tersebut tak segan meminjamkan alas tikar kepada pengunjung tanpa dipungut biaya.

LEZATNYA PAPEDA DAN IKAN KUAH KUNING.


Sorong memiliki hasil olahan ikan yang melimpah, selain juga dikenal sebagai daerah penghasil sagu. Tak heran jika Sorong memiliki papeda, salah satu kekayaan kuliner yang juga menjadi santapan khas Tanah Papua. Meski terhitung unik, papeda sebenarnya merupakan sajian yang sangat sederhana dan bisa diolah sendiri. Papeda dibuat dari sagu yang dicampur dengan air kemudian dimasak sampai mengental dan menyerupai lem yang lengket. Agar lebih nikmat, papeda biasanya dihidangkan sambil ditemani lauk ikan kuah kuning.

Jenis ikan yang biasanya dipilih antara lain kakap merah, ikan mubara atau ikan merah cendrawasih yang hanya bisa didapatkan di Tanah Papua. Itu sebabnya, citarasa papeda dan ikan kuah kuning jauh lebih lezat daripada tempat lain. Sebetulnya, ikan kuah kuning yang segar dan gurih ini sama seperti gulai ikan pada umumnya, bedanya hanya diolah tanpa santan. Papeda dan ikan kuah kuning biasanya dilengkapi tumis bunga papaya dan kangkung yang disiram dengan irisan jeruk serta dicocol sambal terasi. Rebusan singkong dan pisang terkadang juga menjadi kudapan tambahan.

Selain papeda, Tanah Papua yang dikenal sebagai daerah epidemik malaria juga menawarkan makanan tradisional yang sekaligus menjadi obat. Salah satunya tumis bunga papaya. Seperti halnya papeda, makanan ini boleh dibilang selalu disajikan di setiap rumah makan. Anda bisa menemukan sajian tradisional ini di beberapa rumah makan yang hanya buka sampai sore hari. Di antaranya adalah Rumah Makan Cahaya di Jalan Selat Karimata. Di rumah makan sederhana ini, satu porsi papeda dengan ikan kuah kuning ditawarkan dengan harga Rp 30.000. Namun sebaiknya datang di siang hari. Pasalnya, sajian papeda di rumah makan ini biasanya habis dalam waktu singkat sehingga warung tutup menjelang sore.

Selain rumah makan Cahaya, rumah makan Hawion yang letaknya tepat berada di depan Kantor Walikota Sorong juga menjadi salah satu rumah makan tujuan untuk berburu hidangan papeda dan ikan kuah kuning. Lokasinya yang sangat strategis, serta tempatnya yang nyaman menjadikan rumah makan ini selalu ramai didatangi pengunjung. Harga yang ditawarkan pun sama, yakni Rp 30.000 untuk satu porsi papeda dan ikan kuah kuning. Yang perlu diperhatikan adalah menu papeda yang biasanya diberikan dalam porsi besar. Jadi, bagi yang tak terbiasa makan dengan porsi besar, boleh meminta setengah porsi papeda dan ikan kuah kuning, agar perut tak terasa penuh.






MOST RECENT