MI KOCOK MANG DADENG - BANDUNG : Kelezatan Dari 15 Macam Rempah Dan Sumsum.
Mi kocok yang satu ini sangat legendaris di Bandung dan kini dikelola oleh generasi ketiga. Mulanya, Usman, orangtua dari Dadeng yang pertama kali berjualan mi kocok dengan cara dipikul berkeliling dari satu kampung ke kampung sekitar tahun 1967. Ketika ayah Dadeng meninggal, kakak-kakak Dadeng lalu meneruskan usaha ini. Namun, setelah salah satu kakaknya vakum, barulah Dadeng yang meneruskan usaha ini dan di tangannya lah usaha ini menampakkan kemajuan berarti. Hingga akhirnya, tahun 1990 Dadeng mangkal di Jalan KH. Ahmad Dahlan 67, Buah Batu, Bandung, di seberang tempat usahanya sekarang. Para pembeli yang sudah ketagihan rasa mi kocok Dadeng akhirnya mendatangi warungnya. Dua tahun kemudian, rumah makan Dadeng pindah ke tempat sekarang. Makin hari, pembeli Mi Kocok Mang Dadeng makin ramai, terutama di akhir pekan dan hari libur.
Jangan heran melihat pembeli rela mengantre menunggu kursi kosong, terutama pada jam makan siang. Lezatnya mi kocok Mang Dadeng tak luput dari 15 macam rempah yang menjadi bahan bakunya, antara lain daun salam, lengkuas, ketumbar, dan sebagainya. Mi kocok sendiri terdiri dari mi gepeng berwarna kuning, tauge, dan potongan kikil yang sangat empuk karena direbus beberapa jam. Bila beruntung, anda juga bisa mendapatkan sumsumnya yang lezat. Sumsum inilah yang menjadi kelebihan mi kocong Mang Dadeng dibanding mi kocok lainnya. Mi kocok biasa dihargai Rp 23.000, bila ditambah sumsum Rp 27.000. Selain mi kocok, Dadeng juga menyediakan sop kaki sapi yang per porsinya dijual seharga Rp 27.000. Kalau ditambah sumsum harganya Rp 30.000.
Lezatnya mi kocok ini rupanya tak hanya dikenal di kalangan warga Bandung dan sekitarnya saja. Pembeli dari luar kota termasuk Jakarta, bahkan dari luar negeri seperti Malaysia, Brunei, Jepang, dan Belanda, tak jarang mengunjungi tempat makan yang sederhana ini. Bulan Juni sampai September, biasanya pembeli mayoritas wisatawan dari Malaysia. Bahkan, pernah ada pembeli dari Jepang yang menawari Mang Dadeng untuk membuka cabang di sana, namun ditolak Mang Dadeng karena terlalu jauh. Sementara di Bandung saja pembelinya sudah banyak. Dalam seminggu biasanya ada publik figur seperti pemain bola dan artis yang menyantap mi kocok ini. Di antaranya Armand ‘Gigi’ Maulana, Laudya Cynthia Bella, dan Paramitha Rusady.
Pada hari Senin sampai Kamis, biasanya tempat ini menghabiskan 700 porsi per hari, sedangkan saat akhir pekan bisa 1000 porsi per hari. Sementara saat Lebaran bisa mencapai 2.500 porsi per hari. Kini, mi kocok yang sering dipesan untuk acara pernikahan, rapat, dan jamuan ini dikelola oleh anak keempat Dadeng, meski Dadeng yang kini sudah berusia 71 tahun masih tetap mengawasi jalannya usaha.
CUANKI SERAYU - BANDUNG : Cuanki Dengan Porsi Isi Besar Dan Rasa Kuah Yang Beda.
Sepintas, cuanki mirip dengan bakso malang. Isinya antara lain tahu putih yang diisi aci, siomay, bakso, pangsit rebus, pangsit goreng, dan bakso goreng. Hanya saja, tak seperti bakso malang, cuanki tidak menggunakan mi kuning. Kuahnya yang gurih pun bening bertabur irisan daun bawang. Di Cuanki Serayu yang terletak di Jalan Serayu, Bandung, masing-masing isi dibuat dalam ukuran cukup besar sehingga menyantap setengah porsi pun terasa kenyang. Selain cuanki, Cuanki Serayu juga menyediakan batagor yang berisikan tahu, siomay kering, pangsit, dan bakso goreng. Bila anda ingin bersantap di sana, mengantrelah di barisan yang biasanya mengular ke luar. Sementara, bila bermaksud dibawa pulang, anda bisa langsung memesan di gerobak di bagian kanan depan.
Meski sebenarnya cuanki lebih nikmat dimakan saat udara dingin karena kuahnya yang panas, pembeli yang datang di Cuanki Serayu tak mengenal waktu. Siang sejak baru dibuka pun cuanki ini sudah mulai diserbu pengunjung. Malah, terkadang setengah jam sebelum buka, mereka sudah mulai mengantre. Saat jam makan siang tiba, warung makan ini kerap tak mampu memuat ‘ledakan’ pengunjung yang berdesakan mencari tempat duduk. Di dalamnya, pembeli seolah tak menggubris panasnya hawa dan sempitnya ruang gerak karena disesaki 50 pengunjung. Selain itu, meski harus mengantre panjang atau duduk di bawah pohon di trotoar di samping atau seberang warung pun, para pembeli juga tak keberatan. Memarkir mobil agak jauh karena di sekitar Cuanki Serayu sudah penuh oleh mobil para pembeli yang datang lebih dulu juga tak masalah.
Penuhnya pembeli memang sudah menjadi pemandangan sehari-hari di Cuanki Serayu. Tak heran meski jam tutupnya pukul 19.00, tempat makan yang buka mulai pukul 11.00 ini biasanya sudah habis pukul 17.00. Terkadang, pembeli yang sudah datang dari jauh pun tidak sempat kebagian karena keburu habis. Menurut para pembeli, rasa kuah Cuanki Serayu yang berbeda dari tempat lain lah yang membuat mereka sering datang ke sini. Siomay dan pangsitnya pun juga tidak keras. Banyak pembeli yang datang dari luar kota seperti Jakarta. Meski di jual di pinggir jalan, tak kurang dari selebritis dan istri pejabat kerap datang mencicipi gurihnya Cuanki Serayu, termasuk Annisa Pohan, menantu mantas presiden SBY. Ada pula yang membeli untuk dibawa ke luar kota seperti Bali dan Pekanbaru.
Setiap hari, tempat makan yang libur setiap Senin pertama di awal bulan ini menghabiskan cuanki dan batagor masing-masing 200-300 porsi. Satu porsi cuanki atau batagor dihargai Rp 15.000, sedangkan separuh porsi Rp 10.000. Selain melayani pengunjung yang datang, Cuanki Serayu juga sering menerima pesanan untuk berbagai acara, mulai dari arsan, ulang tahun, sampai pernikahan. Bila memesan minimal 100 prosi, akan dikirimkan orang untuk melayani para tamu di tempat acara.
Sejak awal didirikan tahun 1997, tempat makan yang kini memiliki 15 orang pegawai ini memang berlokasi di Jalan Serayu, Bandung. Kasno, pria asal Kebumen yang merantau ke Bandung, sebelumnya memang berjualan cuanki dengan gerobak pikul dan mangkal di Jalan Serayu. Lezatnya cuanki buatan Kasno membuatnya semakin laris dan akhirnya ia berhasil memiliki warung sendiri pada 1997 di tempat yang sama. Sejak itulah, cuanki Kasno semakin diburu banyak orang. Penuhnya tempat makan itu lalu membuat Kasno mendirikan cabang di Jalan Mangga, yang juga sering penuh seperti warung yang ada di Jalan Serayu. Ada pula di Jalan Cihapit, tapi bentuknya bukan warung, melainkan dijual dengan gerobak beroda di pinggir jalan. Dari tiga cabang itu, total jumlah pegawai Kasno mencapai 22 orang dengan penjualan sekitar 500 porsi cuanki dan 200 porsi batagor setiap harinya.
KERIPIK TEMPE BENGUK KHAS WONOGIRI : Gurihnya Lebih Dari Keripik Tempe Biasa
Biji benguk yang melimpah di daerah Wonogiri, Jawa Tengah ternyata juga bisa memancing kreativitas warganya. Biji benguk itu diolah menjadi penganan khas seperti keripik tempe. Namanya keripik tempe benguk. Sekilas, cemilan ini hampir serupa dengan keripik tempe dari biji kedelai. Namun, ada rasa berbeda saat kita mencicipinya. Rasa keripik tempe benguk lebih gurih meski sedikit lebih keras. Salah satu keripik tempe benguk yang mudah didapatkan di kota Wonogiri dan sekitarnya adalah milik Tumini.
Tumini bercerita, sebenarnya usaha keripik tempe sudah dimulai oleh orangtuanya sejak lama. Jadi sejak kecil ia memang sudah akrab dengan olahan keripik tempe. Akan tetapi, Tumini dan sang suami, Rakino, kemudian berinisiatif mencoba mengganti biji kedelai dengan biji benguk untuk diolah menjadi keripik tempe. Sejak tahun 2000, ia pun mulai menawarkan keripik tempe benguk dengan harga Rp 600 saja, karena saat itu masih diecer dan dijual keliling.
Ternyata respons yang datang cukup mengejutkan Tumini. Banyak yang suka dengan keripik tempe benguk kreasinya. Dari semula hanya mengolah keripik tempe benguk sebanyak 2 kilo, Tumini kemudian terus meningkatkan kapasitas produksi. Dan lama kelamaan keripik tempe benguknya justru dijadikan oleh-oleh dan laku keras. Tumini tentu saja amat bangga karena olahan tempe benguk ini kini sudah makin marak di kota Wonogiri. Sekarang memang sudah banyak pengrajin keripik tempe benguk, karena cemilan ini berhasil menjadi pilihan lain oleh-oleh khas Wonogiri selain kacang mete.
Untuk mengolah keripik tempe benguk, Tumini yang berproduksi di Grobog, Wuryorejo, Wonogiri ini perlu menjalani proses yang panjang serta butuh kesabaran karena memang cukup rumit. Biji benguk harus direndam selama lima hari lima malam baru bisa dicampur dengan adonan tepung beras. Kemudian ditambahi bumbu untuk dijadikan keripik tempe. Sampai kini produksi olahan keripik tempe benguk Tumini masih terus meningkat. Setidaknya ia memproduksi hingga 15 kilo setiap harinya bahkan bisa lebih hingga dua kali lipat saat libur hari besar. Tumini menginginkan, ke depannya keripik tempe benguk ini tidak hanya memiliki rasa yang original saja, tetapi juga ada rasa lainnya sebagai inovasi. Sekarang Tumini menjual keripik tempe benguk olahannya dengan harga yang masih terjangkau, mulai Rp 10 ribu hingga Rp 18 ribu untuk ukuran mika bulat yang besar.
Salah satu kendala yang dihadapi Tumini saat mengolah cemilan khas Wonogiri ini adalah ketika biji benguk tidak panen. Meskipun sebetulnya keberadaannya cukup melimpah di Wonogiri, terlebih saat musim panen, tetapi pernah pula ia mengalami kesulitan mendapatkan biji benguk. Kalau sudah begitu, mau tak mau ia mengganti produksinya dengan keripik tempe biasa. Hasil olahan keripik tempe benguk Tumini tak hanya dipasarkan di wilayah Wonogiri saja, tetapi sudah tersebar hingga Sukoharjo. Selain dengan cara titip jual di toko oleh-oleh di Pasar Kota, ia juga menjualnya ke beberapa pasar seperti Pasar Eromoko dan Ngadirojo. Tumini bersyukur, keripik tempe benguk olahannya banyak yang menyukai.
KACANG METE BU DHARMO PUTRO DAN PENGANAN KHAS WONOGIRI LAINNYA
Siapa yang tidak kenal cemilan kacang mete? Rasanya yang gurih membuat cemilan ini sebagai salah satu cemilan yang disukai. Nah, bagi yang tengah berkunjung ke kota Wonogiri, Jawa Tengah, tak afdol apabila tak membawa kacang mete sebagai oleh-oleh. Pasalnya, Wonogiri memang dikenal menghasilkan mete yang berkualitas. Adalah Bekti Rahayu, perempuan tengah baya asli Wonogiri, yang dikenal memiliki kacang mete goreng yang istimewa. Dengan merek mete Bu Dharmo Putro, kacang mete goreng hasil olahan Bekti pun siap disantap langsung oleh pembeli.
Bekti bercerita awalnya ia hanya menjual kacang mete mentah saja, tetapi sekarang di tokonya juga sudah disediakan yang digoreng. Jadi pembeli tinggal memilih saja. Harga kacang mete mentah Rp 110 ribu per kilo, sedangkan yang matang saat ini Rp 115 ribu per kilonya. Soal rasa, kacang mete Bu Dharmo Putro menawarkan sesuatu yang berbeda. Gurihnya beda dengan kacang mete lain. Istri Darsito ini mengaku bumbu yang ia gunakan sebetulnya sama saja. Tetapi mungkin cara menggoreng dan mengolah sejak dari kacang mentah yang berbeda. Ia selalu mengupas dan langsung menggoreng, hingga kacangnya jadi lebih gurih dan renyah. Selain itu, Bekti juga memilih menggoreng dengan menggunakan kayu bakar. Rasanya memang jadi lebih berbeda.
Tak mengherankan jika produksi kacang mete Bu Dharmo Putro kini bisa mencapai 4 kuintal. Pesanan rutin datang dari luar kota, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Cirebon, Semarang, dan Bali. Tak tanggung-tanggung, kacang mete buatan Bekti ini juga sudah merambah hingga ke pasar luar negeri seperti Negeri Sakura Jepang dan Thailand. Bermula dari adik iparnya yang memiliki pasangan orang Jepang, saat datang ke Wonogiri dan mencicipi kacang mete buatannya sepertinya jadi ketagihan. Kemudian melalui bisnis biro travel khusus untuk orang Jepang, adik iparnya itu mulai memasarkan di Jakarta, dan berlanjut sampai masuk ke salah satu pasar di Jepang.
Tak hanya menawarkan kelezatan kacang mete, perempuan kelahiran Wonogiri 9 Januari 1953 ini juga mengenalkan penganan lokal lainnya. Diantaranya geti, karak, ampyang, tape ketan, emping manis, serundeng, dan sambel pecel. Semuanya diproduksi langsung. Sejak kecil Bekti memang sudah suka memasak dan sekalian diajari berdagang oleh orangtuanya. Lewat usahanya ini ia juga ingin mengenalkan dan mempertahankan cemilan tradisional Wonogiri. Salah satu penganan unik siap santap dan sekarang sudah jarang dimasak adalah cabuk wijen. Karena sudah sulit dicari, maka beberapa pelanggan yang mungkin kangen dengan cabuk wijen lalu meminta Bekti untuk membuatkan. Dan ternyata benar, cabuk wijen buatannya itu laku keras dan banyak peminatnya.
Setiap hari, Bekti memproduksi cabuk wijen hingga 150 bungkus, masing-masing seharga Rp 2 ribu per bungkus. Makanan ini serupa dengan botok atau pepes. Enaknya disantap dengan nasi. Karena memang sudah jarang yang membuatnya, maka Bekti ingin mengenalkannya kembali, sekaligus memelihara kuliner tradisional Wonogiri. Permintaan memang meningkat, terlebih bila menjelang Lebaran. Ia bisa membuat cabuk wijen sampai tiga kali lipat, dan itu pun masih sering kurang karena saking banyaknya yang mencari. Semua hasil olahan Bekti langsung dipasarkan di beberapa tempat oleh-oleh miliknya dan keempat anaknya yang tersebar di kota Wonogiri.
LELE MANGUT MBAH MARTO - YOGYAKARTA : Menyantap Langsung Dari Dapur Tradisional
Dari luar, tempat wisata kuliner yang satu ini sama sekali tidak mirip warung. Lokasinya pun berada di tengah perkampungan. Hanya spanduk bertuliskan Mangut Lele Mbah Marto di bagian depan saja yang menandakan bahwa rumah itu berfungsi sebagai warung. Selebihnya, di teras dan ruang tamu yang lantainya masih plesteran, tampak orang-orang memenuhi meja makan dan kursi-kursi kayu di sana sambil bercanda dengan keluarga masing-masing. Sementara, di samping rumah yang berlantai tanah, para pembeli juga sibuk menyantap nasi lele mangut di bangku kayu panjang. Maka, tak perlu sungkan seperti tamu di rumah yang amat sederhana milik Mbah Marto yang terletak di Dusun Ngireng-ireng, Saraban, Panggungharjo, Sewon, Bantul, ini. Begitu masuk ke pekarangan rumahnya yang berisi sumur, silahkan langsung menuju samping rumah dan terus masuk ke dapur.
Di situ anda bisa memesan menu legendaris di warung ini, yaitu nasi mangut lele yang disajikan bersama gudeg dan sambal goreng krecek. Ada pula garang asem ayam atau hati, opor ayam, dan sate kerang. Semua disajikan di atas lincak bambu yang lebar, anda tinggal mengambil sendiri yang diinginkan. Namun, jangan kaget bila mata langsung terasa perih ketika masuk ke dapur, bilamana tungku masih menyala. Semua menu di warung yang buka setiap hari pukul 10.00-16.00 ini memang dimasak dengan menggunakan tungku kayu bakar. Sebelum dibuat mangut, lele diasap terlebih dahulu agar tidak tengik dan aroma sedapnya keluar. Lalu, dibumbui antara lain bawang merah, bawang putih, kunci, cabai, dan santan kental.
Menurut Kasilah, anak bungsu Mbah Marto, ibunya itu mulai berjualan mangut lele sejak masih muda, tepatnya usia 20 tahun. Saat itu ibunya berkeliling kampung sambil menggendong tenggok berisi mangut lele, mulai jam 10.00. Waktu itu, jumlah mangut yang dijual belum bisa banyak karena berat membawanya. Baru sekitar 25-30 tahun kemudian, Mbah Marto tidak lagi berkeliling dan membuka warung di rumahnya. Para pelanggannya yang merasa kehilangan lalu mencari ke rumah. Kelezatan lele mangut Mbah Marto membuat makin banyak pembeli yang datang sejak saat itu.
Para pembeli juga berasal dari luar kota, termasuk Jakarta, Surabaya, bahkan tak sedikit bule yang datang. Pak Bondan Winarno dan Pak William Wongso pun juga sudah beberapa kali datang ke sini. Banyak juga selebritis yang datang seperti Guruh Soekarno Putra, Indro Warkop, dan Indie Barends. Sampai sekarang, rasa mangut lele Mbah Marto tidak pernah berubah. Kasilah kini yang dipercaya meneruskan usaha ini dibantu bibi dan kerabatnya. Bila beruntung, pengunjung juga bisa berkesempatan bertemu dengan Mbah Marto yang usianya telah sepuh. Meski sudah lanjut usia, Mbah Marto yang memiliki enam anak ini tetap ikut membantu berjualan, bahkan menjadi kasir. Ia juga selalu dengan ramah dan jenaka melayani para pelanggan yang ingin berpose dengannya. Pada hari biasa, lele yang dibutuhkan sekitar 25-30 kg, sedangkan pada hari libur bisa mencapai 40 kg per hari. Harga seporsi nasi mangut lele atau nasi garang asem Rp 20.000.
MANGUT LELE MBAH MARTO
Dusun Ngireng-ireng, Saraban, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, Indonesia
Phone: 089 623 047 222
Phone: 089 623 047 222
BAKMI JAWA MBAH GITO - YOGYAKARTA : Sensasi Bersantap Di Kandang Sapi.
Di warung bakmi Jawa yang satu ini, anda bisa menemukan suasana berbeda. Nuansa kayu dan bambu terasa kental memenuhi seluruh interior warung, mulai dari meja, kursi, dinding, tiang penyangga, tangga, hingga lantai atas. Ya, meski terbilang sederhana, warung unik yang terbuat dari kandang sapi ini berlantai dua. Di dindingnya, tergantung berbagai peralatan dan peranti yang biasa dipakai pada zaman dulu. Sugito, pemilik warung Bakmi Jawa Mbah Gito menjelaskan, karena dirinya yang memang wong ndeso, maka semua produk ndeso sengaja ia tempelkan di warungnya, termasuk kandang sapi asli. Ini sekaligus untuk mengingatkannya bahwa dulu ia hidup dengan barang-barang tersebut. Meski lokasinya di Yogya kota, tepatnya di Jalan Nyi Ageng Nis, Peleman, Rejowinangun, tapi cukup mblusukkarena terletak di jalan kecil dan tersembunyi.
Pengunjung warung Bakmi Jawa Mbah Gito bukan hanya warga Yogya saja. Yang datang dari Jakarta bahkan lebih banyak, terutama saat hari libur, termasuk para artis dan menteri yang datang secara rombongan dalam satu bus. Gito menambahkan, Menteri Anies Baswedan bila pulang ke Yogyakarta pun biasanya menyempatkan mampir untuk makan di warungnya. Warung ini didirikan Gito pada Mei 2008. Namun, saat masih bujang ia sebetulnya sudah pernah berjualan bakmi Jawa di daerah Prawirotaman. Meski kembali berjualan di tempat yang sekarang, Gito menuturkan, pada 2011 sebetulnya ia nyaris menutup warungnya ini karena beratnya perjalanan bisnis yang harus dilaluinya selama tiga tahun pertama. Untuk membayar biaya operasional termasuk menggaji pegawai saja ia terpaksa nombok karena pemasukannya sangat sedikit. Terkadang, dalam sehari yang terjual hanya 10 porsi, itu pun bila sedang ramai.
Tak mau menyerah, Gito mencoba cara lain. Selain membenahi kualitas rasa, ia juga gencar melakukan promosi. Tak kurang dari walikota dan kepala kejaksaan setempat ia kirimi bakmi buatannya untuk memperkenalkan warungnya. Kebetulan, ia memang mengenal Herry Zudianto yang menjadi walikota Yogya saat itu. Ternyata beliau cocok, dan lantas mempromosikan bakmi buatan Gito ke orang lain. Dan Gito pun makin bangga sampai akhirnya kini hasil karyanya bisa dinikmati publik figur. Sekarang warung yang ia kelola secara tradisional ini semakin ramai. Tak hanya untuk bersantap, tapi sering pula dipakai untuk rapat atau acara lain. Bila sedang ramai, 10 ekor ayam bisa habis dalam sehari. Untuk pasokan ayam kampung, Gito mendatangkannya khusus dari daerah Wonosari, Gunungkidul yang memang dikenal sebagai daerah asal bakmi Jawa. Agar lebih lezat, ia juga menggunakan telur bebek untuk menunya.
Sementara untuk mi, Gito sengaja membuatnya sendiri. Selain menyediakan bakmi Jawa yang menjadi andalan, warung Gito yang digawangi 8 tukang masak ini juga menawarkan rica-rica ayam kampung dan capcay. Seporsi bakmi Jawa harganya Rp 17.000, rica-rica Rp 30.000, dan nasi goreng Rp 15.000. Sementara, teh dengan gula batu yang sengaja disajikan dalam poci untuk mempertahankan keaslian tradisi sejak Gito kecil dibanderol dengan harga Rp 5000. Menariknya, menjelang malam tiba, para pegawai termasuk pelayan akan berganti pakaian. Pegawai pria akan mengenakan surjan, sementara yang perempuan mengenakan kebaya. Gito ingin pembeli tahu bahwa suasana desa pada zaman dulu seperti itu. Oleh karena itu, biasanya setiap malam Minggu ia juga menggelar pagelaran karawitan. Ada pula wayang kulit untuk acara tertentu. Apa yang dilakukannya ini sebagai upaya untuk merawat budaya Jawa.
Suasana unik dan tradisional ditambah dengan citarasa yang lezat itulah yang membuat banyak turis mancanegara kembali datang ke warung Gito tiap kali berkunjung ke Yogya. Antara lain, wisman dari Amerika, Jepang, Hawaii, Suriname, dan Australia. Untuk mencicipi mi Jawa Mbah Gito, menurut pria asli Wonosari yang hanya bersekolah sampai SMP ini, warungnya siap melayani pembeli mulai pukul 11.00-23.00. Namun ia mengaku, tak mau ngoyo dalam berjualan. Kalau memang sudah waktunya tutup, ia pun akan menutup warungnya.
BAKMI JAWA MBAH GITO
Jl Nyi Ageng Nias No 9 Rejowinangun, Yogyakarta, Indonesia
TENGKLENG GAJAH - YOGYAKARTA : Tengkleng Dengan Ukuran Porsi Besar
Tak sedikit yang mengira Hartono menyediakan tengkleng dari daging gajah ketika membaca spanduk di depan warungnya di Bulurejo, Minomartani, Ngaglik, Sleman. Padahal, kata gajah hanya dipakai Hartono untuk menggambarkan besarnya ukuran tengkleng yang disajikan per porsinya. Ketika hendak memulai bisnisnya pada Februari 2007 silam, Hartono, yang memang penggemar tengkleng ini, berpikir harus ada perbedaan dari tengkleng yang dijual di tempat lainnya. Oleh karena itu, ia memutuskan memberi ciri khas berupa ukurannya yang super besar sehingga diibaratkan seperti gajah. Nama ini juga ia maksudkan untuk menarik minat anak-anak, karena biasanya menu tengkleng dan sate tidak mereka gemari. Pun, kalau ia hanya menulis tengkleng saja atau tengkleng jumbo, juga kurang menarik dan dianggap orang biasa saja. Sejak awal, Hartono memang sudah mengarah pada porsi yang besar dan daging yang menempel di tulang masih banyak.
Sebab, selama ini tengkleng yang banyak dijual orang, bahkan di Solo yang menjadi daerah asal Hartono, porsinya kurang mantap. Maka, Hartono mantap membuka warung tengkleng yang beda ini dengan modal Rp 60 juta. Ternyata, di kemudian hari, banyak orang mengira ia menjual daging gajah sungguhan. Sehingga, saat pertama warung dibuka, tak sedikit yang sudah masuk warung keluar lagi tanpa memesan. Namun, setelah tahu bahwa tengkleng gajah hanya sebuah nama untuk masakan berbahan dasar kambing, lambat laun banyak yang suka. Hartono mengaku ia tak punya banyak persiapan untuk membuka warungnya. Bisa dibilang ia cukup nekat karena tak berpikir lama ketika pertama kali memutuskan berjualan tengkleng.
Ia merekrut orang dan tidak harus pintar memasak. Ia cukup meminta memasak tengkleng sebisanya, lalu ia yang menilai. Setelah dijual, saran dari pembeli ia perhatikan sehingga akhirnya didapat resep yang benar-benar pas. Hartono pun banyak mengajak orang yang menganggur untuk ikut kerja padanya. Entah nanti usahanya menjadi seperti apa, yang penting orang itu tetap mau bekerja, hingga bisa terus mendapatkan uang. Awalnya warung Hartono hanya memiliki enam bangku.
Hartono bercerita, pada tahun-tahun sebelum membuka warung tengkleng, ia sering menjamu teman-temannya di rumah dengan menu sate saat Idul Adha. Bila mendapat kiriman daging kambing kurban 1-2 kg, ia akan membeli daging kambing lagi sebagai tambahan. Lalu daging itu ia campur dan potong kecil-kecil untuk dibuat sate. Jadi, satu orang bisa makan banyak sekali. Pria yang mengaku bahwa sebenarnya tak bisa memasak tengkleng, gulai, maupun tongseng kambing ini hanya mengolah daging kambing ala kadarnya dengan cara dicelup bumbu dan dibakar.
Rupanya, keseriusan Hartono dalam mengelola warung termasuk menyajikan tengkleng dalam porsi yang mantap membuat warungnya berkembang dalam waktu singkat. Pembeli tak henti-henti datang ke warungnya, sampai-sampai ia dan para pegawainya sempat kewalahan meski sudah menambah pegawai beberapa kali. Sayang, usaha Hartono sempat mendapat cobaan saat datangnya krisis moneter global pada 2009. Imbasnya, warungnya sepi. Kalau sebelumnya pukul 21.00 saja masih ramai, saat krismon terpaksa tutup pukul 16.00-17.00. Karena kalau dibuka sampai pukul 19.00, sudah tidak ada orang yang datang. Selama dua tahun Hartono mengalami kondisi seperti itu, sampai ia sempat berniat menutup warungnya. Meski gaji pegawai tak pernah telat dibayarkan, tapi pembayaran kambing sempat tersendat.
Namun, pria asal Purbalingga ini pun sangat bersyukur, sang istri yang seorang karyawati swasta sangat mendukung usahanya dan memintanya terus bertahan. Sang istri yakin kelak suatu saat nanti akan ada perubahan, meski saat itu Hartono sudah nyaris putus asa karena uang yang dimiliki makin minus. Padahal sebelumnya, Hartono sudah terlanjur melepas usaha barang rongsoknya agar bisa fokus di bisnis warung ini. Setiap malam, ia dan istrinya yang membantu pembukuan warung berdiskusi tentang warungnya untuk mendapatkan solusi terbaik. Dan benar kata istrinya, pada 2011 warungnya bangkit kembali, justru saat ia dan istrinya sudah pasrah. Sejak itu, warungnya makin laris dan terkenal, bahkan melebihi sebelumnya. Tak kurang dari para menteri ikut datang sebagai pembeli di warung yang kini memiliki 18 pegawai ini. Hartono menjelaskan, berapa pun uang yang harus dikeluarkan untuk memberikan kualitas terbaik untuk pembeli, akan ia lakukan. Jadi, bukan sekedar besarnya keuntungan yang ia cari.
Hartono sendiri sangat memperhatikan kesejahteraan pegawainya. Selain gaji bulanan, pada tengah bulan biasanya ia juga membagikan uang, belum lagi bonus tambahan bila warungnya ramai. Ada lagi arisan pegawai yang uangnya diambil dari kas warung dan setiap bulan diundi. Kini, setiap hari Tengkleng Gajah menghabiskan 80 kg daging kambing dan 100 kg tulang untuk tengkleng. Saat hari libur, warung yang mampu menampung 150-an pengunjung ini menjual lebih banyak lagi tengkleng. Tengkleng, tongseng, dan sate goreng menjadi menu favorit di warung yang buka mulai pukul 09.00 sampai malam ini. Seporsi tengkleng gajah atau sate goreng harganya Rp 30.000. Kini, Hartono tengah menyiapkan cabang baru, karena banyak yang menyarankan untuk membuka warungnya di Jakarta.
Tengkleng Gajah Yogyakarta
Jalan Kaliurang Km. 9,3 Bulurejo, Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta
Telp: (0274) 882512
Telp: (0274) 882512
Subscribe to:
Posts (Atom)
MOST RECENT
Join US on Facebook
Popular Posts
-
Restoran yang satu ini terletak di Jalan M. Syafei, Pasar Padang Panjang, sekitar 76 km dari Padang. Dari luar, bangunan ini tampak biasa sa...
-
Terletak di Jalan Nusa Indah III No. 01, Bandar Lampung, Restoran Cikwo menghadirkan aneka ragam masakan khas Lampung. Namun, bagi pelangga...
-
Keluar dari gerbang Bandar Udara Tampa Padang, yang terletak di Kampung Jati,Tampa Padang, Mamuju, Sulawesi Barat, kepulan asap tipis berwar...
-
Sejak beberapa tahun terakhir, nasi kucing mulai mengisi resto di Ibu Kota. Sejatinya nasi kucing itu dijual di gerobak-gerobak di Yogyakart...
-
Biji benguk yang melimpah di daerah Wonogiri, Jawa Tengah ternyata juga bisa memancing kreativitas warganya. Biji benguk itu diolah menjadi ...
-
Bila anda bertanya di mana pempek yang terkenal dan enak di Palembang, nama Pempek Beringin yang ada di Jalan Lingkaran I, Dempo, Palembang...
-
Kuliner ini memang tidak setenar coto Makassar, tapi dijamin rasanya tak kalah hebat. Pallubasa namanya, biasa disingkat dengan nama Palbas...
-
Tongseng adalah salah satu hidangan berbahan daging kambing yang populer saat makan di luar. Tongseng mempunyai riwayat hidup yang panjang. ...
-
Penampilannya tak jauh beda dengan ketupat lain. Memerlukan perjuangan ekstra untuk membuat kuliner yang satu ini, sebab bahannya sudah sang...
-
Sate kerang merupakan salah satu makanan khas Medan yang cukup digemari. Berbeda dengan jenis sate lain yang cara memasaknya melalui proses...
Labels
- #semarang #angkringan #viral #angkringanviral #viralangkringan #semaranghits #semarangblogger #youtuber #jajanan
- JUAL BAWANG GORENG NABATI
- JUAL BOLU KUKUS KETAN ITEM
- kulinaer jawa barat
- KULINER BANDA ACEH
- KULINER BANDAR LAMPUNG
- KULINER BANDUNG
- KULINER BENGKULU
- KULINER BUKITTINGGI
- KULINER CIREBON
- KULINER GRESIK
- KULINER JAKARTA.
- KULINER JAWA TENGAH
- KULINER JAWA TIMUR
- KULINER KALIMANTAN SELATAN
- KULINER KALIMANTAN TIMUR
- KULINER MADURA
- KULINER MAGELANG
- KULINER MAKASSAR
- KULINER MALANG
- KULINER MALUKU
- KULINER MAMUJU
- KULINER MEDAN
- KULINER NTB
- KULINER NUSANTARA
- KULINER PADANG
- KULINER PALEMBANG
- KULINER PAPUA
- KULINER PONTIANAK
- KULINER SEMARANG
- KULINER SOLO
- KULINER SULAWESI
- KULINER SULAWESI BARAT
- KULINER SUMATERA BARAT.
- KULINER SUMATERA SELATAN
- KULINER TUBAN
- KULINER WONOGIRI
- KULINER YOGYAKARTA
- PESAN PANCAKE DUREN JAKARTA
- PESAN SAMBAL ROA JUDES
















