TEH TALUA : Minuman Khas Ranah Minang.
Berkunjung ke Sumatera Barat tidak lengkap rasanya jika tidak mencicipi berbagai kuliner. Masakan Minang (atau lebih dikenal masakan Padang) memang sudah terkenal kelezatannya. Tak hanya masakan, minuman asal Minangkabau pun juga enak untuk dinikmati. Salah satunya adalah teh talua (teh telur). Teh talua adalah minuman tradisional warga Minang. Sesuai dengan namanya, bahan dasar minuman ini selain air adalah teh dan telur.
Teh talua lebih enak dinikmati pada malam hari atau pagi hari, kendati demikian tak masalah pula jika dikonsumsi siang hari. Selain nikmat, minuman ini juga dipercaya memberi manfaat bagi tubuh, di antaranya meningkatkan kebugaran. Sebenarnya tidak ada resep yang rahasia dari pembuatan teh talua ini. Namun, kekurangpiawaian meracik bahan-bahannya akan membuat rasa teh talua menjadi aneh dan berbau anyir.
Bahan-bahan yang diperlukan adalah satu butir telur ayam kampung atau bebek, satu atau satu setengah sendok gula, satu atau dua sendok susu kental manis, dan satu iris jeruk nipis. Sedangkan teh yang digunakan adalah teh bubuk halus. Namun, teh biasa pun juga sebenarnya bisa digunakan, tapi hasilnya akan berbeda jika kita menggunakan teh bubuk halus. Mula-mula teh direbus hingga mendidih. Sambil menunggu air mendidih, kocok kuning telur dan gula hingga agak mengembang atau sedikit berbusa. Setelah air rebusan teh mendidih, tuangkan ke adonan yang sudah mengembang tadi. Aduk hingga merata dan tambahkan irisan jeruk nipis dan susu. Dan, teh talua pun siap disajikan.
Teh talua asli Minang biasanya terdiri dari tiga atau empat lenggek (lapisan). Bagian dasar gelas berwarna putih yang merupakan susu kental manis, tingkat ke dua teh berwarna cokelat, dan lapisan paling atas adalah busa berwarna putih. Untuk teh talua empat lenggek biasanya pada bagian cokelat ada sedikit perbedaan, cokelat tua dan cokelat muda. Orang asli Minang biasanya bisa menilai, teh talua itu enak atau tidaknya, dari ada atau tidak lenggeknya.
SOTO ROXY H DARWASA - JAKARTA, Bertahan Sejak 1948.
Soto merupakan kuliner tradisional berkuah, berbahan dasar daging, yang banyak penggemarnya. Soto bisa ditemui di hampir seluruh daerah, tentunya dengan kekhasan masing-masing. Di Jakarta, salah satu soto legendaris yang menjadi favorit adalah Soto Roxy H Darwasa yang telah ada sejak 1948. Uniknya, jika biasanya soto disajikan di atas mangkuk, Soto Roxy disajikan di atas piring. Pemilik Soto Roxy H Darwasa, Iskandar Zulkarnaen, mengatakan, penyajian yang tidak biasa tersebut menjadi ciri khas utama soto yang berlokasi di Jalan Tidore, Roxy, Jakarta Pusat ini. Selain itu, Soto Roxy juga dilengkapi dengan nasi dan sambal yang semuanya disajikan di atas piring.
Menurut Iskandar, tak hanya menjaga keaslian, Soto Roxy juga selalu mempertahankan cita rasa dan kualitas. Soto ini mengandalkan kekuatan kaldu daging dan bumbu tanpa menambahkan perasa buatan. Setiap hari 80 kilogram daging dan iga direbus selama dua sampai tiga jam untuk menghasilkan kaldu yang baru. Kaldu yang tersisa setelah semua soto terjual habis langsung dibuang dan tidak dipakai kembali keesokan harinya. Untuk bumbu, Iskandar membuat sendiri yang nantinya disatukan dengan kaldu, santan, dan garam. Sedangkan, sambal pendamping soto dibuat dari cabai rawit hijau, cabai rawit merah, dan cabai keriting mentah yang dihaluskan. Sementara, bumbu sama seperti soto lain, terdiri dari rempah-rempah, lengkuas, jahe, bawang merah, bawang putih. Yang membedakan hanya takarannya saja.
Daging sebagai komponen utama soto juga dipilih hanya daging lokal yang berkualitas. Iskandar mengaku pernah beberapa kali mengganti pemasok daging karena tidak menyediakan daging yang bagus. Ia juga tidak pernah menumpuk daging untuk dipakai di hari berikutnya. Daging didapat setiap hari dari pemasok dalam kondisi segar hingga berpengaruh pada tekstur dan rasa setelah diolah.
Soto Roxy menyediakan beragam pilihan daging dan jeroan, seperti daging goreng, daging rebus, sengkel, paru, lidah, babat, usus/iso, kikil, dan tulang muda. Jika ingin mencoba semuanya, pembeli bisa memesan soto campur dengan memilih daging atau jeroan sesuka hati. Iskandar menjelaskan, soto daging goreng merupakan varian soto yang paling cepat habis. Soto daging goreng digemari pelanggan karena tekstur dagingnya yang empuk dengan campuran bumbu yang khas. Daging goreng itu sebenarnya adalah daging rebus yang digoreng lagi. Hanya, Soto Roxy tidak dilengkapi dengan tomat, kentang, dan acar layaknya soto pada umumnya. Soto di sini cukup ditaburi emping, bawang goreng, dan daun bawang.
Soto Roxy dirintis oleh H Darwasa sejak pasca kemerdekaan Indonesia dan dijajakan dengan cara dipikul atau didorong di atas gerobak. Baru beberapa puluh tahun kemudian keempat anaknya meneruskan usaha soto H Darwasa tersebut. Anak-anak H Darwasa berhasil memajukan usaha soto ini dan membuka warung tenda di Roxy. Di bawah nama Soto Roxy H Darwasa, soto tersebut semakin digandrungi pelanggan sampai akhirnya menyewa tempat permanen di dekat lokasi yang sama.
Iskandar sendiri sebagai generasi ketiga berhasil membuka empat cabang Soto Roxy di berbagai tempat setelah tiga tahun mengelola Soto Roxy. Cabang-cabang tersebut di antaranya berada di Gading Serpong, Alam Sutera, Taman Surya, dan Kelapa Gading. Tujuannya membuka cabang, karena melihat kapasitas di Roxy yang sudah terlalu penuh. Buka sejak jam enam pagi, sampai jam dua siang sudah habis. Akhirnya banyak pelanggan yang memberi masukan untuk membuka cabang di beberapa daerah. Iskandar menargetkan dapat membuka tiga cabang setiap tahun. Ia mengamati antusiasme pelanggan cukup besar terhadap cabang-cabang yang sudah didirikan. Salah satu penyebabnya, selain rasa yang tidak pernah berubah, kedai cabang juga menyediakan layanan pesan antar untuk radius 5 km.
Dengan harga jual Rp 30 ribu per porsi, Soto Roxy menyediakan daging yang melimpah di setiap piringnya. Saat ini kedai Soto Roxy di Roxy per harinya bisa menjual 400 porsi dengan omzet mencapai Rp 12 juta dalam satu hari.
PETAI : Aroma Dan Cita Rasa Yang Menggugah Selera.
Ukuran mata petai memang tak lebih besar dari koin Rp 500. Akan tetapi, dari ukuran yang kecil tersebut, petai mampu menghasilkan aroma dan cita rasa yang menggugah selera. Meski tak semua orang menyukai aroma yang dimiliki petai, petai tetap menjadi salah satu jenis polong-polongan bernilai ekonomi luar biasa dan banyak dicari. Di beberapa wilayah Indonesia, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sumatra Barat, petai merupakan salah satu 'primadona' yang cukup populer untuk dijadikan sebagai hidangan pelengkap hingga hidangan utama.
Yang cukup menarik dari petai ialah jumlah varietasnya yang tak terhingga. Petai berasal dari biji sehingga tiap biji petai yang ditanam akan menghasilkan jenis petai yang berbeda pula. Oleh karena itu, meski semua petai terlihat hampir serupa, pada dasarnya petai-petai yang ada di pasaran berasal dari jenis yang berbeda-beda. Jadi, jika ada sejuta biji yang ditanam, ada sejuta varietas petai yang berbeda. Kecuali, jika petai dikloning dengan dicangkok atau diokulasi. Dia akan sama persis dengan 'ibu'nya.
Meski petai memiliki jumlah varietas yang sangat beragam, ada beberapa 'patokan' dalam mengategorikan petai yang umumnya jarang diperhatikan masyarakat. Patokan ini setidaknya mengerucutkan varietas-varietas petai ke dalam tiga kelompok besar, yaitu petai normal, petai padi, dan petai super. Petai normal merupakan petai yang umumnya ditemukan di pasaran. Jumlah mata petai yang dimiliki oleh jenis ini hanya berkisar antara 12 dan 15 buah mata dalam satu papan petai. Sedangkan, petai padi memiliki ciri khas berupa panjang papan yang lebih pendek dengan jumlah mata petai paling banyak 11 buah. Meski hanya sedikit, mata petai padi memiliki ukuran yang cenderung besar. Kelompok ketiga, yaitu petai super, dapat dikenali melalui jumlah mata petai yang lebih banyak dari petai pada umumnya. Dalam satu papan, petai super dapat memiliki jumlah mata di atas 20 buah.
Selain itu, petai juga dapat dikenali berdasarkan kualitasnya. Petai yang berkualitas memiliki papan yang lurus, panjang, dan bermata banyak. Sedangkan, petai 'kelas 2' memiliki papan yang cenderung melintir. Papan petai yang melintir menunjukkan bahwa petai tersebut terlalu muda saat dipetik atau memang dari awal memiliki 'bakat' yang tidak begitu baik. Sedangkan dari faktor rasa, variasi petai ada yang kecil menyengat, ada yang besar tetapi rasanya ringan, dan ada yang cenderung pahit atau manis. Semuanya tergantung selera.
Di Indonesia, pada dasarnya, ada sekitar satu atau dua jenis petai yang telah dilepas sebagai varietas unggul nasional. Sayangnya, jenis petai ini tidak dikembangkan dan dibibitkan secara massal sehingga hanya menjadi 'jagoan lokal' saja. Oleh karena itu, mantan direksi Taman Buah Mekarsari Dr Ir Mohammad Reza Tirtawinata MS, yang juga dijuluki Ayah Asuh Bibit Petai, saat ini terdorong untuk mencari petai-petai unggul dari berbagai wilayah di Indonesia untuk kemudian diokulasi induknya. Dengan begitu, peluang untuk mendistribusikan petai berkualitas ke berbagai wilayah di Indonesia akan terbuka. Pada tahun 2014, misalnya, pria yang akrab disapa Reza ini pernah mendatangi sebuah desa kecil di Kalimantan Barat bernama Bale Karangan. Tujuan utamanya kala itu sebenarnya ingin berburu durian di pasar kaget yang diselenggarakan di desa tersebut setiap pekan, yaitu Pasar Pekan. Akan tetapi, saat sedang melakukan pencarian durian, Reza menemukan petai dengan tandan yang besar, jumlah papan yang banyak dengan bentuk yang lurus, serta jumlah mata petai yang mencapai 20. Ia mengaku sebelumnya tidak pernah melihat petai sebaik itu di Pulau Jawa. Sayangnya, penjual petai tidak mengetahui di mana letak pasti pohon petai yang berkualitas itu. Sang penjual hanya mengetahui bahwa petai tersebut berasal dari hutan. Karena tak berhasil menemui pohon induknya, Reza pun segera memborong sekitar 50 papan petai unggul tersebut untuk ditanam dari bijinya, meski bila menanam dari biji berisiko berubah bentuk, tidak sama dengan induknya.
Yang menjadi tantangan, menurut Reza, ialah memperbanyak bibit petai yang berkualitas karena belum ada pengusaha yang tertarik untuk fokus menjadi pembibit petai. Padahal, untuk memenuhi pasar Jakarta saja, diperlukan sekitar seribu hingga 10 ribu pohon petai kolonal atau hasil kloning dari induk petai berkualitas. Penanaman petai hasil kloning atau okulasi ini kemudian memerlukan waktu lima-10 tahun hingga membuahkan hasil yang memadai. Sejauh ini, alumnus Institut Pertanian Bogor ini menemukan ada beberapa daerah yang memiliki petai berkualitas super. Petai dari Gunung Karang, Pandeglang, misalnya, memiliki 21 mata petai dalam satu papan. Selain di Pandeglang, petai-petai yang berkualitas juga Reza ditemui di Lampung serta Kalimantan Barat. Petai-petai tersebut dapat tumbuh dengan baik karena ditunjang oleh beberapa faktor penting. Salah satunya, petai ditanam dengan ketinggian ideal, yaitu 200-800 meter di atas permukaan laut. Selain itu, petai-petai di daerah tersebut juga mendapat curah hujan yang cukup. Menurut Reza, daerah Indonesia bagian barat, seperti Sumatra, Kalimantan, dan Jawa, yang curah hujannya merata setiap tahun sangat bagus untuk ditanam petai. Tapi bila di NTB, NTT, akan menjadi kurang bagus karena daerahnya terlalu kering. Dari petai-petai unggul ini, Reza kemudian melakukan okulasi pada induk petai untuk memperbanyak bibitnya. Akan tetapi, jika ia tidak berhasil menemukan induk pohon dari petai berkualitas yang ia temukan, ia akan mencoba menanam petai tersebut dari biji meski kemungkinan besar petai baru yang akan dihasilkan tidak sama persis kualitasnya.
Tiap daerah pun memiliki rasa petai yang cenderung berbeda. Rasa petai di Jawa Barat cenderung lebih lezat jika dibandingkan dengan petai dari daerah lain. Salah satu alasannya, petai di Jawa Barat cenderung dipanen ketika berusia tua sehingga terasa segar dan beraroma lebih menggugah. Terlepas dari jenisnya yang beragam, semua petai cocok untuk diolah dalam berbagai metode memasak. Hanya, memasak petai perlu memperhatikan waktu karena petai akan berkurang kelezatannya jika dimasak terlalu lama. Idealnya, petai dimasukkan paling akhir dalam proses mengolah masakan. Dalam makanan berkuah, misalnya, petai lebih baik dimasukkan saat lima menit sebelum masakan matang. Selain itu, pemilihan bumbu yang tepat juga penting dalam pengolahan petai. Meski pada dasarnya semua bumbu cocok untuk dikombinasikan dengan petai, namun disarankan agar petai disandingkan dengan bumbu yang kuat, seperti terasi hingga cabai. Jika bumbu terlalu ringan, cita rasa bumbu akan kalah dengan petai.
Meski sebagian orang tidak menyukai aromanya, petai pun sebetulnya menyimpan khasiat yang baik bagi kesehatan. Salah satunya, petai mengandung serat yang tinggi sehingga baik untuk kesehatan perut. Meski begitu, juga tidak disarankan petai disantap terlalu sering. Pasalnya, petai mengandung zat besi yang cukup tinggi sehingga lebih baik disantap dengan tidak berlebihan. Aroma yang kuat memang tidak bisa dipisahkan dari petai, akan tetapi, setidaknya ada dua cara sederhana untuk meminimalkan aroma kuat dari petai ini. Salah satunya ialah dengan mengkonsumsi buah setelah menyantap petai. Cara lainnya, ialah dengan menyeruput minuman yang telah diberikan daun mint.
WISATA KULINER SORONG - PAPUA BARAT : Menikmati Sajian Hidangan Laut Di Pinggir Pantai.
Pintu gerbang tanah Papua Barat, begitulah sebutan bagi kota Sorong. Memiliki luas 1.105 km2, kota Sorong terbagi menjadi 10 distrik setingkat kecamatan. Tak hanya menawarkan keindahan alam yang luar biasa, wisata kuliner di Sorong pun ternyata tak kalah menggugah selera. Berbagai menu menarik siap dicicip, mulai aneka seafood sampai kuliner tradisional seperti papeda.
SEAFOOD TEMBOK BERLIN
Pencinta makanan laut sebaiknya tidak menyia-nyiakan kesempatan mencicipi hidangan laut dari kota Sorong yang luar biasa. Hidangan laut di kota minyak ini memang dikenal lebih segar dan jauh dari polusi akibat pencemaran laut. Untuk memburu aneka hidangan laut yang lezat seperti ikan bakar, cumi, kepiting, kerang, dan hasil laut lainnya, salah satu pilihan tepat adalah ke pantai Tembok Berlin. Berlokasi tak jauh dari pusat kota Sorong, pantai Tembok Berlin yang juga dikenal dengan nama pantai Doflor ini pada malam hari menjajakan kuliner hidangan laut yang sungguh lezat. Deretan warung tenda pinggir pantai ini berlomba-lomba menyajikan menu seafood dengan harga relatif murah jika dibandingkan dengan harga seafood di kota-kota besar.
Masing-masing warung makan yang berada di pantai Tembok Berlin juga menyajikan keunggulannya pada pelanggan. Ikan-ikan segar sengaja disusun rapi berjajar agar para pengunjung bisa melihat dan memilih langsung ikan segar yang akan diolah dan disajikan. Bagi anda yang baru pertama kali tiba di lokasi ini, tak perlu ragu dan bingung hendak memilih warung makan yang mana. Rata-rata semua warung menawarkan sajian menu yang hampir sama. Namun, ada baiknya anda datang lebih cepat, karena tak hanya wisatawan yang memadati lokasi ini, tetapi juga warga Sorong. Biasanya warga Sorong memilih makan malam seraya menikmati deburan ombak pantai Tembok Berlin.
Beberapa warung makan favorit seperti Warung Miranda memiliki menu kepiting saus asam manis yang lezat dengan harga terjangkau. Untuk seporsi kepiting di warung ini harga yang ditawarkan mulai dari Rp 50.000. Warung lain yang juga menawarkan sajian yang tak kalah nikmat adalah Pojok Madiun. Letaknya berdampingan dengan Warung Miranda. Pojok Madiun juga menawarkan ikan bakar dengan sambal yang dikenal pedas dan nampol. Selain kedua warung tadi, warung lain yang juga ramai dipenuhi pengunjung adalah Warung Malioboro. Anda tak perlu khawatir soal harga. Semua harga yang ditawarkan di lokasi makan ini masih terjangkau untuk kantong. Memang, beberapa hidangan laut dibanderol cukup mahal, terutama menu ikan berukuran besar. Tak heran terkadang terjadi tawar menawar antara pengunjung dengan pemilik warung. Biasanya harga khusus diberikan kepada pengunjung dari luar kota yang ingin menikmati sensasi hidangan laut di kota Sorong.
Salah satu daya tarik lokasi makan Pantai Berlin adalah rasa ikan bakar yang berbeda, padahal hanya dimasak dengan bumbu sederhana. Ikan direndam dalam air santan dan jeruk nipis sebelum dibakar dan diolesi mentega serta bumbu bakar sederhana. Berbagai jenis ikan yang disediakan antara lain ikan baronang, kerapu, bubara, kakap merah, dan kakap putih, serta bawal. Hampir semuanya laris dipilih pengunjung. Salah satu pemilik warung, Rudi, yang berasal dari Pati, Jawa Tengah, mengaku setiap hari setidaknya menghabiskan 50 hingga 60 ekor ikan di warungnya. Bahkan, pada malam minggu atau pada hari libur, Rudi menyediakan hingga 100 ekor ikan untuk disantap para pengunjung.
Saat ditanya apa rahasianya bisa menyajikan menu ikan yang maknyus, Rudi mengaku tidak memiliki resep khusus. Yang jelas, ikan yang ia tawarkan adalah ikan segar, sehingga rasanya jadi lebih nikmat. Tak mau kalah, Rudi pun mempromosikan harga yang dibanderol semua warung makan di pantai Tembok Berlin. Harganya terhitung murah. Dengan uang Rp 40.000 saja kita sudah bisa menikmati lezatnya hidangan laut Sorong.
PISANG GORENG DAN KELAPA MUDA
Kawasan tepi laut di sepanjang jalan raya dan dibatasi tembok pembatas setinggi 3 meter dan lebar sekitar 50 cm ini berfungsi sebagai tanggul yang mencegah luapan air laut saat pasang. Namun, lokasi ini juga menjadi lokasi pilihan untuk melihat keindahan tenggelamnya matahari. Tak hanya warga lokal yang sering memadati pantai Tembok Berlin, tetapi juga para wisatawan. Tak cuma sunset yang dicari para pengunjung dan warga lokal di pantai ini, mereka juga berburu aneka gorengan yang disajikan dan dinikmati bersama sambal sagu beserta air kelapa muda yang segar.
Di pantai ini, gerobak penjaja aneka gorengan berjajar di sepanjang pantai. Biasanya, pantai baru mulai ramai di sore hari menjelang matahari terbenam. Meski menunya hanya gorengan seperti pisang goreng, ubi goreng, tempe mendoan, atau tahu, tapi ketika dicocol dengan sambal sagu, ternyata paduan rasa yang dihasilkan sungguh menerbitkan air liur. Sambal sagu adalah sambal yang dicampur tepung sagu dengan tekstur agak sedikit kental, dicampur ulekan cabe dan daun jeruk yang menyegarkan lidah. Tak heran jika banyak pengunjung yang akhirnya ketagihan mencoba hidangan ringan ini.
Harga yang dipatok untuk hidangan ringan ini sangat terjangkau kantong. Aneka gorengan dijual dengan harga sekitar Rp 1000 per buah. Untuk melengkapi gorengan dan sambal sagu, pengunjung bisa memilih minuman kelapa muda sebagai penyegarnya. Pedagang menawarkan kelapa muda di lokasi pantai Tembok Berlin dengan harga Rp 10.000. Apabila anda ingin mendapatkan lokasi terbaik, sebaiknya beramah tamahlah dengan penjual. Biasanya, para penjual tersebut tak segan meminjamkan alas tikar kepada pengunjung tanpa dipungut biaya.
LEZATNYA PAPEDA DAN IKAN KUAH KUNING.
Sorong memiliki hasil olahan ikan yang melimpah, selain juga dikenal sebagai daerah penghasil sagu. Tak heran jika Sorong memiliki papeda, salah satu kekayaan kuliner yang juga menjadi santapan khas Tanah Papua. Meski terhitung unik, papeda sebenarnya merupakan sajian yang sangat sederhana dan bisa diolah sendiri. Papeda dibuat dari sagu yang dicampur dengan air kemudian dimasak sampai mengental dan menyerupai lem yang lengket. Agar lebih nikmat, papeda biasanya dihidangkan sambil ditemani lauk ikan kuah kuning.
Jenis ikan yang biasanya dipilih antara lain kakap merah, ikan mubara atau ikan merah cendrawasih yang hanya bisa didapatkan di Tanah Papua. Itu sebabnya, citarasa papeda dan ikan kuah kuning jauh lebih lezat daripada tempat lain. Sebetulnya, ikan kuah kuning yang segar dan gurih ini sama seperti gulai ikan pada umumnya, bedanya hanya diolah tanpa santan. Papeda dan ikan kuah kuning biasanya dilengkapi tumis bunga papaya dan kangkung yang disiram dengan irisan jeruk serta dicocol sambal terasi. Rebusan singkong dan pisang terkadang juga menjadi kudapan tambahan.
Selain papeda, Tanah Papua yang dikenal sebagai daerah epidemik malaria juga menawarkan makanan tradisional yang sekaligus menjadi obat. Salah satunya tumis bunga papaya. Seperti halnya papeda, makanan ini boleh dibilang selalu disajikan di setiap rumah makan. Anda bisa menemukan sajian tradisional ini di beberapa rumah makan yang hanya buka sampai sore hari. Di antaranya adalah Rumah Makan Cahaya di Jalan Selat Karimata. Di rumah makan sederhana ini, satu porsi papeda dengan ikan kuah kuning ditawarkan dengan harga Rp 30.000. Namun sebaiknya datang di siang hari. Pasalnya, sajian papeda di rumah makan ini biasanya habis dalam waktu singkat sehingga warung tutup menjelang sore.
Selain rumah makan Cahaya, rumah makan Hawion yang letaknya tepat berada di depan Kantor Walikota Sorong juga menjadi salah satu rumah makan tujuan untuk berburu hidangan papeda dan ikan kuah kuning. Lokasinya yang sangat strategis, serta tempatnya yang nyaman menjadikan rumah makan ini selalu ramai didatangi pengunjung. Harga yang ditawarkan pun sama, yakni Rp 30.000 untuk satu porsi papeda dan ikan kuah kuning. Yang perlu diperhatikan adalah menu papeda yang biasanya diberikan dalam porsi besar. Jadi, bagi yang tak terbiasa makan dengan porsi besar, boleh meminta setengah porsi papeda dan ikan kuah kuning, agar perut tak terasa penuh.
MENCICIPI KULINER KALIMANTAN TIMUR DALAM WAKTU SINGKAT
Selain menyimpan kekayaan alam yang memukau mata, propinsi Kalimantan Timur juga menawarkan kuliner yang menggugah rasa. Petualangan kuliner di Kalimantan Timur bisa dimulai sesaat setelah menginjakkan kaki di Bandar Udara Internasional Sepinggan, Balikpapan. Kota yang menjadi gerbang Kalimantan Timur berkonsep ramah lingkungan ini terlihat indah, modern, dan bersih. Tak heran, jika 2014 lalu, kota ini pernah mendapat penghargaan sebagai ASEAN Environmentally Suistainable Cities (ESC) Award 2014. Ketika itu Balikpapan dianggap memenuhi persyaratan dari 3 kategori yakni, clean land, clean water, dan clean air.
Untuk menebus rasa lapar, sebuah restoran penyaji makanan bahari bernama Kenari bisa menjadi tujuan kita di Kota Minyak ini. Sejak lama, Balikpapan dikenal dengan sajian kepiting, sehingga retoran yang menyajikan makanan jenis ini pun mudah ditemui. Dari banyak restoran terkenal di kota ini, Kenari menjadi satu restoran favorit. Berlokasi di Jalan Marsma R. Iswahyudi, Sepinggan, restoran ini terletak tidak jauh dari Bandar Udara Internasional Sepinggan. Hidangan kepiting yang dimasak dengan teknik dan bumbu berbeda menjadi menu utama, ditemani dengan menu udang dan sayur.
Usai bersantap, kita bisa melanjutkan perjalanan menuju ibu kota Kalimantan Timur, Samarinda. Untuk sampai di Samarinda, jarak yang ditempuh sekitar 126 kilometer dan membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Walau bukan perjalanan yang singkat, namun kondisi jalan yang bagus disertai dengan pemandangan yang indah membuat kita tetap bisa menikmati perjalanan ini dengan menyenangkan.
Petualangan kuliner di Samarinda bisa dimulai sejak pagi hari dengan menikmati sepiring nasi kuning buatan Hj. Surni yang dijajakan di Jalan Pangeran Diponegoro. Ibu beranak 5 dan nenek 11 cucu ini memulai usaha nasi kuningnya sejak awal 1990-an. Perempuan berdarah Jawa Timur ini merantau di Samarinda dan pernah bekerja di beberapa restoran. Kebetulan, dirinya memang jago memasak dan bisa memasak sarapan khas warga Samarinda, nasi kuning. Ternyata, rasanya pun cocok dengan lidah warga dan sering menjadi oleh-oleh.
Satu porsi nasi kuning dengan lauk ikan haruan, daging sapi, dan telur dihargainya Rp 25.000. Ikan haruan atau gabus memang harus ia sediakan setiap hari, karena pelanggannya suka sekali dengan ikan jenis ini walau saat ini susah mencarinya. Akibatnya, harga ikan haruan satu kilogramnya bisa mencapai Rp 80.000. Menurut Hj. Surni, bila ia mengganti dengan ikan jenis lain, tidak ada yang mau. Hj. Surni membuka kedainya setiap hari pada pukul 06.00. Pada saat hari biasa, ia membuat nasi kuning dari 18 kilogram beras. Namun kalau hari libur bisa sampai 35 kilogram. Perempuan yang sudah menunaikan ibadah haji pada 2002 ini pun mengaku bersyukur, sampai sekarang dagangannya selalu ramai. Selain warga Samarinda, ada juga tokoh dan artis yang datang sarapan di tempatnya.
Setiap hari Hj. Surni mulai memasak pada pukul 03.00, sementara di hari libur ia memasak dari pukul 02.00. Yang dimasak memang lumayan banyak, selain beras, ia juga memasak daging sapi sebanyak 6 sampai 10 kilogram dalam sehari. Lalu telur ayam bisa sampai 400 butir saat hari libur. Menurut Hj. Surni, sempat ada pelanggannya yang menawarkan untuk membuka cabang di kota lain, seperti Jakarta dan Surabaya. Tapi ia masih menolaknya, karena mengurus warung yang ada sekarang saja sudah sangat merepotkan.
Usai menyantap nasi kuning, menjelang siang perjalanan bisa diteruskan dengan berkeliling kota Samarinda yang dilewati oleh sungai Mahakam. Sungai terpanjang di Provinsi Kalimantan Timur ini memiliki panjang sekitar 920 km yang melintasi wilayah Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Kartanegara, dan Kota Samarinda. Selain dijadikan sumber air, sungai ini juga menjadi rumah bagi berbagai jenis ikan dan mamalia langka yang terancam punah bernama Pesut. Untuk mengagumi keindahan sungai ini, di beberapa titik tepian sungai berdiri restoran dan warung yang menawarkan beragam penganan seperti roti durian dan buah durian.
Saat ini di warung buah durian hanya ada dua jenis durian yang dapat ditemui, yakni durian mentega yang juga dikenal sebagai monthong, dan durian lokal yang disebut melak. Bentuk buah durian melak tidak terlalu besar, namun mengeluarkan wangi khas yang cukup kuat. Tidak seperti durian mentega yang berdaging tebal, daging durian lokal ini terbilang tipis, dengan rasa manis sedikit pahit yang bisa membuat ketagihan. Berwarna putih sedikit kekuningan, tekstur daging buah durian melak terasa lembut di lidah. Dijual dari harga Rp 5000, menikmati sekitar 10 buah durian melak saja, bersama teman atau kerabat, sepertinya tidak lantas membuat dompet kita mengempis.
SEGO KUCING : Tradisi Warisan Kuliner Untuk Masyarakat Kelas Bawah
Sejak beberapa tahun terakhir, nasi kucing mulai mengisi resto di Ibu Kota. Sejatinya nasi kucing itu dijual di gerobak-gerobak di Yogyakarta atau di Solo. Meski seporsinya tetap sekuran ‘nasi untuk kucing’, tapi harganya sudah berlipat kali dari tempat asalnya. Nasi kucing yang bahasa asalnya sego kucing memang mendapat namanya dari porsi yang dibuat. Sebuah porsi kecil bagaikan porsi nasi untuk makan kucing, lalu dibungkus dengan daun pisang. Selain itu, lauk di dalamnya pun sederhana, hanya secuil bandeng dan sambal. Lauk lainnya seperti telur, ayam, ikan, tempe, tahu, bisa ditambahkan dengan mengambilnya langsung dari si penjualnya, yakni warung angkringan di Yogyakarta, atau hik di Solo alias Surakarta.
Berdasarkan sejarah, ditemukan data tentang angkringan di Solo pada 1912 dalam Koran Jawi Hisworo. Sejak 1912, saat listrik masuk Solo, para urban kerap menikmati kehidupan di keramaian kota di malam hari. Maka, datanglah orang-orang pinggiran Solo yang menyediakan makanan murah meriah di malam hari. Terminologi ‘angkringan’ pun muncul pada tahun itu. Dalam berita di koran itu bahkan sempat dikisahkan, ada pencopet yang bersembunyi di dalam angkring, tempat menaruh makanan.
Sementara istilah nasi kucing muncul pada 1980-an. Ketika manusia sudah menerima makan seperti kucing dengan cukup secuil bandeng, dan sambal. Para pembeli sudah merasa nikmat dan cukup dengan menyantap hidangan khas ala kucing itu. Nasi yang sama di Yogyakarta pun serupa isinya. Begitu pula istilah angkringan yang digunakan di Yogyakarta dan hik di Surakarta. Keduanya sinonim. Namun ada sisi lain dari nasi kucing yang bisa dilihat. Yakni, maknanya dalam kacamata perempuan Jawa di meja makan. Bahwa wanita Jawa itu kala makan harus sopan, tidak menunjukkan lahapnya di depan publik.
Harga nasi porsi hemat ini Rp 1.500-Rp 2.000-an sangat cocok dengan kantong mahasiswa. Tak heran bila nasi kucing menjadi populer di kalangan ekonomi ‘pas-pasan’, termasuk tukang becak hingga buruh di kota Yogyakarta dan Solo. Bila di kota-kota lain warung Tegal (warteg) atau mungkin juga nasi Padang, adalah harapan bagi mereka, maka di dua kota ini nasi kucing lah yang menjadi pilihan dan banyak tersedia di angkringan atau hik. Selain harganya yang terjangkau, juga menawarkan suasana yang santai.
KETHAK, Camilan Dari Ampas Minyak Kelapa Yang Gurih
Ampas minyak kelapa adalah bahan makanan yang bisa diolah menjadi berbagai santapan. Ada orang yang mengolahnya menjadi camilan, ada pula yang menjadikannya pendamping makanan berat. Ada perbedaan penyebutan untuk ampas minyak kelapa ini. Untuk daerah Yogyakarta dan Solo, sering disebut kethak. Sedangkan untuk daerah lain di Jawa, banyak orang menyebutnya blondo. Olahan kethak berasal dari kebiasaan masyarakat dahulu yang sering membuat minyak dari kelapa.
Seorang penjual kelapa parut di Pasar Cinere, Depok, bernama Yono mengaku memiliki usaha sampingan berjualan kethak. Dalam sebulan, Yono bisa mendapat satu atau dua orang yang memesan kethak. Ia memang baru akan membuatkan blondo atau kethak ketika ada yang memesan. Untuk membuat kethak, Yono menggunakan kelapa tua yang masih segar. Kelapa itu lalu diparut dan diperas untuk menghasilkan santan. Santan yang diperoleh lantas direbus sekitar tiga hingga empat jam atau sampai air menguap dan tersisa minyak serta ampasnya. Minyak kemudian dipisahkan dari ampas dengan cara ditiriskan. Ampas tersebut kemudian digoreng lagi sampai betul-betul kering. Selama memasak harus terus diaduk agar tidak gosong. Hasil yang bagus adalah yang warnanya kecokelatan. Dari 20 kelapa, Yono bisa menghasilkan sekitar setengah kilogram kethak. Ia biasa menjualnya seharga Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per kilogram kepada pelanggan. Menurut Yono, usaha ini sebenarnya tidak terlalu serius ia tekuni, karena ia lebih mengincar minyaknya. Tapi karena ada yang memesan, maka ia bisa untuk membuatkan.
Kethak masih cukup populer di berbagai daerah di Jawa. Masih mudah menemukan kethak di Yogyakarta dan Solo. Secara umum, kethak masih bisa ditemukan di daerah yang masih memiliki kebiasaan mengolah kelapa menjadi minyak. Kethak atau blondo pada dasarnya mirip dengan rendang. Hanya bedanya, untuk membuat rendang, blondo akan dicampur dengan berbagai rempah dan minyak. Sementara santan yang direbus tanpa bumbu, maka akan menjadi blondo atau kethak. Kethak bisa diolah menjadi penyerta tiwul. Bahkan dicampur dengan nasi atau ketan pun rasanya nikmat. Untuk anak-anak, kethak juga bisa diolah menjadi permen. Caranya, ampas yang masih seperti lumpur bisa ditambahkan gula pasir. Hasilnya, kethak akan menjadi seperti gulali atau permen.
Banyak masyarakat di pelosok Jawa yang mengkonsumsi kethak. Bahkan, masyarakat menggunakan kethak sebagai lauk dan memakannya dengan nasi panas. Di Maluku juga ada makanan hasil olahan ampas minyak kelapa. Di Ternate, Tidore, dan Halmahera banyak ditemukan ampas minyak kelapa dicampur dengan cabai untuk diolah menjadi sambal. Di Tapanuli Selatan, banyak pula masyarakat yang mencampurnya dengan nasi goreng. Di Minahasa yang kaya akan hasil bumi kelapa, kethak juga masuk hitungan. Taiminyak, begitu masyarakat Minahasa biasa menyebutnya, dianggap sebagai penyedap masakan. Tumisan daun gedi dengan campuran bawang putih dan kethak akan membuat rasanya semakin gurih dan sedikit manis. Rasanya yang manis-manis gurih memang membuat ampas minyak kelapa ini cukup populer di berbagai wilayah nusantara.
Saat ini, kethak memang belum banyak diolah secara khusus. Ampas minyak kelapa hanya diproduksi dalam skala rumahan. Sementara untuk mengembangkan kuliner ini diperlukan bahan yang banyak. Imbas dari produksi minyak kelapa sawit, membuat praktik pembuatan minyak kelapa sudah jarang dilakukan. Jadi, ampas minyak kelapa ini sekarang sudah bisa disebut langka, yang akhirnya membuat kethak tidak banyak diolah secara khusus.
MENCARI KETHAK SAMPAI KEBUMEN
Bila di banyak daerah kethak tak selalu mudah didapat, lain halnya di pasar-pasar tradisional kawasan Kebumen, Jawa Tengah. Hampir setiap hari, kita bisa memperolehnya pada pedagang sayur. Dengan menyodorkan Rp 500, kita bisa membawa pulang sebungkus kecil kethak. Kethek, begitu orang Kebumen menyebutnya, berasal dari dua tempat, yakni Desa Meles, di selatan Karanganyar, dan Desa Siladrang, di utara Karanganyar. Kedua desa itu adalah penghasil minyak kelapa. Uniknya, pada hari Minggu semua pedagang di Pasar Meles berjualan kethak secara grosir.
Dari 120 butir kelapa yang dibuat minyak klentik (minyak kelapa) biasanya menghasilkan ampas kethak sekitar 3 kg. Pembuatannya sejak pukul 7 pagi hingga pukul 13 siang. Proses memasak minimal enam jam, dengan penuh kesabaran, dan tidak bisa dikebut atau dipercepat. Dapur Mbah Kardi adalah satu-satunya penghasil kethak di Desa Meles. Sementara beberapa yang lainnya yang telah belajar darinya berada di Desa Siladrang. Sang maestro kethak ini menjadikan kethaknya dalam satu lempengan besar setebal bantal. Kethak lalu dibelah menjadi dua potong, masing-masing seberat tiga kilogram. Harga per kilogramnya Rp 50 ribu. Dari ukuran sebesar itu, kethak kemudian diecer sekepalan tangan, lalu dijual seharga Rp 10 ribu. Sementara ukuran yang lebih kecil lagi, yang berada dalam bungkusan tebal daun pisang, dijual Rp 500-an. Dari kethak yang seharga Rp 50 ribu itu bisa diolah menjadi aneka lauk dan kudapan sampai beberapa minggu. Mulai sebagai tambahan sambal, pelas, hingga kudapan pisang. Untuk penyedap sambal, bahan cabai, bawang merah, bawang putih, garam, sedikit petai cina, lalu ditambahkan sebungkus kecil kethak. Hasilnya sudah cukup membuat lidah bergoyang nikmat. Rasanya bercampur antara pedas, gurih dari minyak kelentik, dan sedikit manis.
Mbah Kardi memang rutin membuat minyak kelapa. Setidaknya dalam seminggu ia bisa memproduksi 35 sampai 50 liter dari 500 butir kelapa tua. Minyak kelapa yang dihasilkannya dibanderol Rp 14 ribu. Memang lebih mahal dari minyak goreng pabrik/sawit yang kisaran harganya Rp 9 ribu.
Subscribe to:
Posts (Atom)
MOST RECENT
Join US on Facebook
Popular Posts
-
Restoran yang satu ini terletak di Jalan M. Syafei, Pasar Padang Panjang, sekitar 76 km dari Padang. Dari luar, bangunan ini tampak biasa sa...
-
Terletak di Jalan Nusa Indah III No. 01, Bandar Lampung, Restoran Cikwo menghadirkan aneka ragam masakan khas Lampung. Namun, bagi pelangga...
-
Keluar dari gerbang Bandar Udara Tampa Padang, yang terletak di Kampung Jati,Tampa Padang, Mamuju, Sulawesi Barat, kepulan asap tipis berwar...
-
Sejak beberapa tahun terakhir, nasi kucing mulai mengisi resto di Ibu Kota. Sejatinya nasi kucing itu dijual di gerobak-gerobak di Yogyakart...
-
Kuliner ini memang tidak setenar coto Makassar, tapi dijamin rasanya tak kalah hebat. Pallubasa namanya, biasa disingkat dengan nama Palbas...
-
Tongseng adalah salah satu hidangan berbahan daging kambing yang populer saat makan di luar. Tongseng mempunyai riwayat hidup yang panjang. ...
-
Sesuai nama rumah makannya, pemiliknya memang bernama Uni Cah. Di rumah makan dari perempuan yang mempunyai empat anak ini, anda bisa menya...
-
Di Bukittinggi, Sumatera Barat, mencicipi hidangan nasi Kapau menjadi menu wajib bagi para wisatawan. Salah satu yang terkenal adalah nasi ...
-
Biji benguk yang melimpah di daerah Wonogiri, Jawa Tengah ternyata juga bisa memancing kreativitas warganya. Biji benguk itu diolah menjadi ...
-
Bila anda bertanya di mana pempek yang terkenal dan enak di Palembang, nama Pempek Beringin yang ada di Jalan Lingkaran I, Dempo, Palembang...
Labels
- #semarang #angkringan #viral #angkringanviral #viralangkringan #semaranghits #semarangblogger #youtuber #jajanan
- JUAL BAWANG GORENG NABATI
- JUAL BOLU KUKUS KETAN ITEM
- kulinaer jawa barat
- KULINER BANDA ACEH
- KULINER BANDAR LAMPUNG
- KULINER BANDUNG
- KULINER BENGKULU
- KULINER BUKITTINGGI
- KULINER CIREBON
- KULINER GRESIK
- KULINER JAKARTA.
- KULINER JAWA TENGAH
- KULINER JAWA TIMUR
- KULINER KALIMANTAN SELATAN
- KULINER KALIMANTAN TIMUR
- KULINER MADURA
- KULINER MAGELANG
- KULINER MAKASSAR
- KULINER MALANG
- KULINER MALUKU
- KULINER MAMUJU
- KULINER MEDAN
- KULINER NTB
- KULINER NUSANTARA
- KULINER PADANG
- KULINER PALEMBANG
- KULINER PAPUA
- KULINER PONTIANAK
- KULINER SEMARANG
- KULINER SOLO
- KULINER SULAWESI
- KULINER SULAWESI BARAT
- KULINER SUMATERA BARAT.
- KULINER SUMATERA SELATAN
- KULINER TUBAN
- KULINER WONOGIRI
- KULINER YOGYAKARTA
- PESAN PANCAKE DUREN JAKARTA
- PESAN SAMBAL ROA JUDES


























