KERIPIK TEMPE BENGUK KHAS WONOGIRI : Gurihnya Lebih Dari Keripik Tempe Biasa


Biji benguk yang melimpah di daerah Wonogiri, Jawa Tengah ternyata juga bisa memancing kreativitas warganya. Biji benguk itu diolah menjadi penganan khas seperti keripik tempe. Namanya keripik tempe benguk. Sekilas, cemilan ini hampir serupa dengan keripik tempe dari biji kedelai. Namun, ada rasa berbeda saat kita mencicipinya. Rasa keripik tempe benguk lebih gurih meski sedikit lebih keras. Salah satu keripik tempe benguk yang mudah didapatkan di kota Wonogiri dan sekitarnya adalah milik Tumini. 

Tumini bercerita, sebenarnya usaha keripik tempe sudah dimulai oleh orangtuanya sejak lama. Jadi sejak kecil ia memang sudah akrab dengan olahan keripik tempe. Akan tetapi, Tumini dan sang suami, Rakino, kemudian berinisiatif mencoba mengganti biji kedelai dengan biji benguk untuk diolah menjadi keripik tempe. Sejak tahun 2000, ia pun mulai menawarkan keripik tempe benguk dengan harga Rp 600 saja, karena saat itu masih diecer dan dijual keliling.

Ternyata respons yang datang cukup mengejutkan Tumini. Banyak yang suka dengan keripik tempe benguk kreasinya. Dari semula hanya mengolah keripik tempe benguk sebanyak 2 kilo, Tumini kemudian terus meningkatkan kapasitas produksi. Dan lama kelamaan keripik tempe benguknya justru dijadikan oleh-oleh dan laku keras. Tumini tentu saja amat bangga karena olahan tempe benguk ini kini sudah makin marak di kota Wonogiri. Sekarang memang sudah banyak pengrajin keripik tempe benguk, karena cemilan ini berhasil menjadi pilihan lain oleh-oleh khas Wonogiri selain kacang mete.


Untuk mengolah keripik tempe benguk, Tumini yang berproduksi di Grobog, Wuryorejo, Wonogiri ini perlu menjalani proses yang panjang serta butuh kesabaran karena memang cukup rumit. Biji benguk harus direndam selama lima hari lima malam baru bisa dicampur dengan adonan tepung beras. Kemudian ditambahi bumbu untuk dijadikan keripik tempe. Sampai kini produksi olahan keripik tempe benguk Tumini masih terus meningkat. Setidaknya ia memproduksi hingga 15 kilo setiap harinya bahkan bisa lebih hingga dua kali lipat saat libur hari besar. Tumini menginginkan, ke depannya keripik tempe benguk ini tidak hanya memiliki rasa yang original saja, tetapi juga ada rasa lainnya sebagai inovasi. Sekarang Tumini menjual keripik tempe benguk olahannya dengan harga yang masih terjangkau, mulai Rp 10 ribu hingga Rp 18 ribu untuk ukuran mika bulat yang besar.

Salah satu kendala yang dihadapi Tumini saat mengolah cemilan khas Wonogiri ini adalah ketika biji benguk tidak panen. Meskipun sebetulnya keberadaannya cukup melimpah di Wonogiri, terlebih saat musim panen, tetapi pernah pula ia mengalami kesulitan mendapatkan biji benguk. Kalau sudah begitu, mau tak mau ia mengganti produksinya dengan keripik tempe biasa. Hasil olahan keripik tempe benguk Tumini tak hanya dipasarkan di wilayah Wonogiri saja, tetapi sudah tersebar hingga Sukoharjo. Selain dengan cara titip jual di toko oleh-oleh di Pasar Kota, ia juga menjualnya ke beberapa pasar seperti Pasar Eromoko dan Ngadirojo. Tumini bersyukur, keripik tempe benguk olahannya banyak yang menyukai.

KACANG METE BU DHARMO PUTRO DAN PENGANAN KHAS WONOGIRI LAINNYA



Siapa yang tidak kenal cemilan kacang mete? Rasanya yang gurih membuat cemilan ini sebagai salah satu cemilan yang disukai. Nah, bagi yang tengah berkunjung ke kota Wonogiri, Jawa Tengah, tak afdol apabila tak membawa kacang mete sebagai oleh-oleh. Pasalnya, Wonogiri memang dikenal menghasilkan mete yang berkualitas. Adalah Bekti Rahayu, perempuan tengah baya asli Wonogiri, yang dikenal memiliki kacang mete goreng yang istimewa. Dengan merek mete Bu Dharmo Putro, kacang mete goreng hasil olahan Bekti pun siap disantap langsung oleh pembeli.

Bekti bercerita awalnya ia hanya menjual kacang mete mentah saja, tetapi sekarang di tokonya juga sudah disediakan yang digoreng. Jadi pembeli tinggal memilih saja. Harga kacang mete mentah Rp 110 ribu per kilo, sedangkan yang matang saat ini Rp 115 ribu per kilonya. Soal rasa, kacang mete Bu Dharmo Putro menawarkan sesuatu yang berbeda. Gurihnya beda dengan kacang mete lain. Istri Darsito ini mengaku bumbu yang ia gunakan sebetulnya sama saja. Tetapi mungkin cara menggoreng dan mengolah sejak dari kacang mentah yang berbeda. Ia selalu mengupas dan langsung menggoreng, hingga kacangnya jadi lebih gurih dan renyah. Selain itu, Bekti juga memilih menggoreng dengan menggunakan kayu bakar. Rasanya memang jadi lebih berbeda.


Tak mengherankan jika produksi kacang mete Bu Dharmo Putro kini bisa mencapai 4 kuintal. Pesanan rutin datang dari luar kota, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Cirebon, Semarang, dan Bali. Tak tanggung-tanggung, kacang mete buatan Bekti ini juga sudah merambah hingga ke pasar luar negeri seperti Negeri Sakura Jepang dan Thailand. Bermula dari adik iparnya yang memiliki pasangan orang Jepang, saat datang ke Wonogiri dan mencicipi kacang mete buatannya sepertinya jadi ketagihan. Kemudian melalui bisnis biro travel khusus untuk orang Jepang, adik iparnya itu mulai memasarkan di Jakarta, dan berlanjut sampai masuk ke salah satu pasar di Jepang.

Tak hanya menawarkan kelezatan kacang mete, perempuan kelahiran Wonogiri 9 Januari 1953 ini juga mengenalkan penganan lokal lainnya. Diantaranya geti, karak, ampyang, tape ketan, emping manis, serundeng, dan sambel pecel. Semuanya diproduksi langsung. Sejak kecil Bekti memang sudah suka memasak dan sekalian diajari berdagang oleh orangtuanya. Lewat usahanya ini ia juga ingin mengenalkan dan mempertahankan cemilan tradisional Wonogiri. Salah satu penganan unik siap santap dan sekarang sudah jarang dimasak adalah cabuk wijen. Karena sudah sulit dicari, maka beberapa pelanggan yang mungkin kangen dengan cabuk wijen lalu meminta Bekti untuk membuatkan. Dan ternyata benar, cabuk wijen buatannya itu laku keras dan banyak peminatnya.


Setiap hari, Bekti memproduksi cabuk wijen hingga 150 bungkus, masing-masing seharga Rp 2 ribu per bungkus. Makanan ini serupa dengan botok atau pepes. Enaknya disantap dengan nasi. Karena memang sudah jarang yang membuatnya, maka Bekti ingin mengenalkannya kembali, sekaligus memelihara kuliner tradisional Wonogiri. Permintaan memang meningkat, terlebih bila menjelang Lebaran. Ia bisa membuat cabuk wijen sampai tiga kali lipat, dan itu pun masih sering kurang karena saking banyaknya yang mencari. Semua hasil olahan Bekti langsung dipasarkan di beberapa tempat oleh-oleh miliknya dan keempat anaknya yang tersebar di kota Wonogiri.

LELE MANGUT MBAH MARTO - YOGYAKARTA : Menyantap Langsung Dari Dapur Tradisional


Dari luar, tempat wisata kuliner yang satu ini sama sekali tidak mirip warung. Lokasinya pun berada di tengah perkampungan. Hanya spanduk bertuliskan Mangut Lele Mbah Marto di bagian depan saja yang menandakan bahwa rumah itu berfungsi sebagai warung. Selebihnya, di teras dan ruang tamu yang lantainya masih plesteran, tampak orang-orang memenuhi meja makan dan kursi-kursi kayu di sana sambil bercanda dengan keluarga masing-masing. Sementara, di samping rumah yang berlantai tanah, para pembeli juga sibuk menyantap nasi lele mangut di bangku kayu panjang. Maka, tak perlu sungkan seperti tamu di rumah yang amat sederhana milik Mbah Marto yang terletak di Dusun Ngireng-ireng, Saraban, Panggungharjo, Sewon, Bantul, ini. Begitu masuk ke pekarangan rumahnya yang berisi sumur, silahkan langsung menuju samping rumah dan terus masuk ke dapur.


Di situ anda bisa memesan menu legendaris di warung ini, yaitu nasi mangut lele yang disajikan bersama gudeg dan sambal goreng krecek. Ada pula garang asem ayam atau hati, opor ayam, dan sate kerang. Semua disajikan di atas lincak bambu yang lebar, anda tinggal mengambil sendiri yang diinginkan. Namun, jangan kaget bila mata langsung terasa perih ketika masuk ke dapur, bilamana tungku masih menyala. Semua menu di warung yang buka setiap hari pukul 10.00-16.00 ini memang dimasak dengan menggunakan tungku kayu bakar. Sebelum dibuat mangut, lele diasap terlebih dahulu agar tidak tengik dan aroma sedapnya keluar. Lalu, dibumbui antara lain bawang merah, bawang putih, kunci, cabai, dan santan kental.

Menurut Kasilah, anak bungsu Mbah Marto, ibunya itu mulai berjualan mangut lele sejak masih muda, tepatnya usia 20 tahun. Saat itu ibunya berkeliling kampung sambil menggendong tenggok berisi mangut lele, mulai jam 10.00. Waktu itu, jumlah mangut yang dijual belum bisa banyak karena berat membawanya. Baru sekitar 25-30 tahun kemudian, Mbah Marto tidak lagi berkeliling dan membuka warung di rumahnya. Para pelanggannya yang merasa kehilangan lalu mencari ke rumah. Kelezatan lele mangut Mbah Marto membuat makin banyak pembeli yang datang sejak saat itu.


Para pembeli juga berasal dari luar kota, termasuk Jakarta, Surabaya, bahkan tak sedikit bule yang datang. Pak Bondan Winarno dan Pak William Wongso pun juga sudah beberapa kali datang ke sini. Banyak juga selebritis yang datang seperti Guruh Soekarno Putra, Indro Warkop, dan Indie Barends. Sampai sekarang, rasa mangut lele Mbah Marto tidak pernah berubah. Kasilah kini yang dipercaya meneruskan usaha ini dibantu bibi dan kerabatnya. Bila beruntung, pengunjung juga bisa berkesempatan bertemu dengan Mbah Marto yang usianya telah sepuh. Meski sudah lanjut usia, Mbah Marto yang memiliki enam anak ini tetap ikut membantu berjualan, bahkan menjadi kasir. Ia juga selalu dengan ramah dan jenaka melayani para pelanggan yang ingin berpose dengannya. Pada hari biasa, lele yang dibutuhkan sekitar 25-30 kg, sedangkan pada hari libur bisa mencapai 40 kg per hari. Harga seporsi nasi mangut lele atau nasi garang asem Rp 20.000.
   


MANGUT LELE MBAH MARTO

Dusun Ngireng-ireng, Saraban, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, Indonesia
Phone: 089 623 047 222

BAKMI JAWA MBAH GITO - YOGYAKARTA : Sensasi Bersantap Di Kandang Sapi.


Di warung bakmi Jawa yang satu ini, anda bisa menemukan suasana berbeda. Nuansa kayu dan bambu terasa kental memenuhi seluruh interior warung, mulai dari meja, kursi, dinding, tiang penyangga, tangga, hingga lantai atas. Ya, meski terbilang sederhana, warung unik yang terbuat dari kandang sapi ini berlantai dua. Di dindingnya, tergantung berbagai peralatan dan peranti yang biasa dipakai pada zaman dulu. Sugito, pemilik warung Bakmi Jawa Mbah Gito menjelaskan, karena dirinya yang memang wong ndeso, maka semua produk ndeso sengaja ia tempelkan di warungnya, termasuk kandang sapi asli. Ini sekaligus untuk mengingatkannya bahwa dulu ia hidup dengan barang-barang tersebut. Meski lokasinya di Yogya kota, tepatnya di Jalan Nyi Ageng Nis, Peleman, Rejowinangun, tapi cukup mblusukkarena terletak di jalan kecil dan tersembunyi.

Pengunjung warung Bakmi Jawa Mbah Gito bukan hanya warga Yogya saja. Yang datang dari Jakarta bahkan lebih banyak, terutama saat hari libur, termasuk para artis dan menteri yang datang secara rombongan dalam satu bus. Gito menambahkan, Menteri Anies Baswedan bila pulang ke Yogyakarta pun biasanya menyempatkan mampir untuk makan di warungnya. Warung ini didirikan Gito pada Mei 2008. Namun, saat masih bujang ia sebetulnya sudah pernah berjualan bakmi Jawa di daerah Prawirotaman. Meski kembali berjualan di tempat yang sekarang, Gito menuturkan, pada 2011 sebetulnya ia nyaris menutup warungnya ini karena beratnya perjalanan bisnis yang harus dilaluinya selama tiga tahun pertama. Untuk membayar biaya operasional termasuk menggaji pegawai saja ia terpaksa nombok karena pemasukannya sangat sedikit. Terkadang, dalam sehari yang terjual hanya 10 porsi, itu pun bila sedang ramai.


Tak mau menyerah, Gito mencoba cara lain. Selain membenahi kualitas rasa, ia juga gencar melakukan promosi. Tak kurang dari walikota dan kepala kejaksaan setempat ia kirimi bakmi buatannya untuk memperkenalkan warungnya. Kebetulan, ia memang mengenal Herry Zudianto yang menjadi walikota Yogya saat itu. Ternyata beliau cocok, dan lantas mempromosikan bakmi buatan Gito ke orang lain. Dan Gito pun makin bangga sampai akhirnya kini hasil karyanya bisa dinikmati publik figur. Sekarang warung yang ia kelola secara tradisional ini semakin ramai. Tak hanya untuk bersantap, tapi sering pula dipakai untuk rapat atau acara lain. Bila sedang ramai, 10 ekor ayam bisa habis dalam sehari. Untuk pasokan ayam kampung, Gito mendatangkannya khusus dari daerah Wonosari, Gunungkidul yang memang dikenal sebagai daerah asal bakmi Jawa. Agar lebih lezat, ia juga menggunakan telur bebek untuk menunya.

Sementara untuk mi, Gito sengaja membuatnya sendiri. Selain menyediakan bakmi Jawa yang menjadi andalan, warung Gito yang digawangi 8 tukang masak ini juga menawarkan rica-rica ayam kampung dan capcay. Seporsi bakmi Jawa harganya Rp 17.000, rica-rica Rp 30.000, dan nasi goreng Rp 15.000. Sementara, teh dengan gula batu yang sengaja disajikan dalam poci untuk mempertahankan keaslian tradisi sejak Gito kecil dibanderol dengan harga Rp 5000. Menariknya, menjelang malam tiba, para pegawai termasuk pelayan akan berganti pakaian. Pegawai pria akan mengenakan surjan, sementara yang perempuan mengenakan kebaya. Gito ingin pembeli tahu bahwa suasana desa pada zaman dulu seperti itu. Oleh karena itu, biasanya setiap malam Minggu ia juga menggelar pagelaran karawitan. Ada pula wayang kulit untuk acara tertentu. Apa yang dilakukannya ini sebagai upaya untuk merawat budaya Jawa.

Suasana unik dan tradisional ditambah dengan citarasa yang lezat itulah yang membuat banyak turis mancanegara kembali datang ke warung Gito tiap kali berkunjung ke Yogya. Antara lain, wisman dari Amerika, Jepang, Hawaii, Suriname, dan Australia. Untuk mencicipi mi Jawa Mbah Gito, menurut pria asli Wonosari yang hanya bersekolah sampai SMP ini, warungnya siap melayani pembeli mulai pukul 11.00-23.00. Namun ia mengaku, tak mau ngoyo dalam berjualan. Kalau memang sudah waktunya tutup, ia pun akan menutup warungnya.


 BAKMI JAWA MBAH GITO
 Jl Nyi Ageng Nias No 9 Rejowinangun, YogyakartaIndonesia
085228408800

TENGKLENG GAJAH - YOGYAKARTA : Tengkleng Dengan Ukuran Porsi Besar


Tak sedikit yang mengira Hartono menyediakan tengkleng dari daging gajah ketika membaca spanduk di depan warungnya di Bulurejo, Minomartani, Ngaglik, Sleman. Padahal, kata gajah hanya dipakai Hartono untuk menggambarkan besarnya ukuran tengkleng yang disajikan per porsinya. Ketika hendak memulai bisnisnya pada Februari 2007 silam, Hartono, yang memang penggemar tengkleng ini, berpikir harus ada perbedaan dari tengkleng yang dijual di tempat lainnya. Oleh karena itu, ia memutuskan memberi ciri khas berupa ukurannya yang super besar sehingga diibaratkan seperti gajah. Nama ini juga ia maksudkan untuk menarik minat anak-anak, karena biasanya menu tengkleng dan sate tidak mereka gemari. Pun, kalau ia hanya menulis tengkleng saja atau tengkleng jumbo, juga kurang menarik dan dianggap orang biasa saja. Sejak awal, Hartono memang sudah mengarah pada porsi yang besar dan daging yang menempel di tulang masih banyak.

Sebab, selama ini tengkleng yang banyak dijual orang, bahkan di Solo yang menjadi daerah asal Hartono, porsinya kurang mantap. Maka, Hartono mantap membuka warung tengkleng yang beda ini dengan modal Rp 60 juta. Ternyata, di kemudian hari, banyak orang mengira ia menjual daging gajah sungguhan. Sehingga, saat pertama warung dibuka, tak sedikit yang sudah masuk warung keluar lagi tanpa memesan. Namun, setelah tahu bahwa tengkleng gajah hanya sebuah nama untuk masakan berbahan dasar kambing, lambat laun banyak yang suka. Hartono mengaku ia tak punya banyak persiapan untuk membuka warungnya. Bisa dibilang ia cukup nekat karena tak berpikir lama ketika pertama kali memutuskan berjualan tengkleng.


Ia merekrut orang dan tidak harus pintar memasak. Ia cukup meminta memasak tengkleng sebisanya, lalu ia yang menilai. Setelah dijual, saran dari pembeli ia perhatikan sehingga akhirnya didapat resep yang benar-benar pas. Hartono pun banyak mengajak orang yang menganggur untuk ikut kerja padanya. Entah nanti usahanya menjadi seperti apa, yang penting orang itu tetap mau bekerja, hingga bisa terus mendapatkan uang. Awalnya warung Hartono hanya memiliki enam bangku.

Hartono bercerita, pada tahun-tahun sebelum membuka warung tengkleng, ia sering menjamu teman-temannya di rumah dengan menu sate saat Idul Adha. Bila mendapat kiriman daging kambing kurban 1-2 kg, ia akan membeli daging kambing lagi sebagai tambahan. Lalu daging itu ia campur dan potong kecil-kecil untuk dibuat sate. Jadi, satu orang bisa makan banyak sekali. Pria yang mengaku bahwa sebenarnya tak bisa memasak tengkleng, gulai, maupun tongseng kambing ini hanya mengolah daging kambing ala kadarnya dengan cara dicelup bumbu dan dibakar.


Rupanya, keseriusan Hartono dalam mengelola warung termasuk menyajikan tengkleng dalam porsi yang mantap membuat warungnya berkembang dalam waktu singkat. Pembeli tak henti-henti datang ke warungnya, sampai-sampai ia dan para pegawainya sempat kewalahan meski sudah menambah pegawai beberapa kali. Sayang, usaha Hartono sempat mendapat cobaan saat datangnya krisis moneter global pada 2009. Imbasnya, warungnya sepi. Kalau sebelumnya pukul 21.00 saja masih ramai, saat krismon terpaksa tutup pukul 16.00-17.00. Karena kalau dibuka sampai pukul 19.00, sudah tidak ada orang yang datang. Selama dua tahun Hartono mengalami kondisi seperti itu, sampai ia sempat berniat menutup warungnya. Meski gaji pegawai tak pernah telat dibayarkan, tapi pembayaran kambing sempat tersendat.

Namun, pria asal Purbalingga ini pun sangat bersyukur, sang istri yang seorang karyawati swasta sangat mendukung usahanya dan memintanya terus bertahan. Sang istri yakin kelak suatu saat nanti akan ada perubahan, meski saat itu Hartono sudah nyaris putus asa karena uang yang dimiliki makin minus. Padahal sebelumnya, Hartono sudah terlanjur melepas usaha barang rongsoknya agar bisa fokus di bisnis warung ini. Setiap malam, ia dan istrinya yang membantu pembukuan warung berdiskusi tentang warungnya untuk mendapatkan solusi terbaik. Dan benar kata istrinya, pada 2011 warungnya bangkit kembali, justru saat ia dan istrinya sudah pasrah. Sejak itu, warungnya makin laris dan terkenal, bahkan melebihi sebelumnya. Tak kurang dari para menteri ikut datang sebagai pembeli di warung yang kini memiliki 18 pegawai ini. Hartono menjelaskan, berapa pun uang yang harus dikeluarkan untuk memberikan kualitas terbaik untuk pembeli, akan ia lakukan. Jadi, bukan sekedar besarnya keuntungan yang ia cari.


Hartono sendiri sangat memperhatikan kesejahteraan pegawainya. Selain gaji bulanan, pada tengah bulan biasanya ia juga membagikan uang, belum lagi bonus tambahan bila warungnya ramai. Ada lagi arisan pegawai yang uangnya diambil dari kas warung dan setiap bulan diundi. Kini, setiap hari Tengkleng Gajah menghabiskan 80 kg daging kambing dan 100 kg tulang untuk tengkleng. Saat hari libur, warung yang mampu menampung 150-an pengunjung ini menjual lebih banyak lagi tengkleng. Tengkleng, tongseng, dan sate goreng menjadi menu favorit di warung yang buka mulai pukul 09.00 sampai malam ini. Seporsi tengkleng gajah atau sate goreng harganya Rp 30.000. Kini, Hartono tengah menyiapkan cabang baru, karena banyak yang menyarankan untuk membuka warungnya di Jakarta.



Tengkleng Gajah Yogyakarta

Jalan Kaliurang Km. 9,3 Bulurejo, Minomartani, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta 
Telp: (0274) 882512

NASI KAPAU UNI LIS - BUKITTINGGI : Menu Usus Tambusu Yang Menjadi Andalan




Di Bukittinggi, Sumatera Barat, mencicipi hidangan nasi Kapau menjadi menu wajib bagi para wisatawan. Salah satu yang terkenal adalah nasi Kapau Uni Lis. Warung nasi Kapau ini terletak di Los Lambung Pasar Atas (Ateuh), tak jauh dari landmark Jam Gadang, Bukittinggi. Di sana, deretan penjual nasi Kapau siap memanjakan perut anda. Barisan baskom berisi lauk pauk beraneka ragam yang berjumlah belasan tersusun rapi di meja bertingkat.

Dengan dibantu tiga orang saudaranya, Zarniati atau yang biasa disapa Uni Zar, yang kini mengelola warung Nasi Kapau Uni Lis, selalu siap melayani pelanggan dengan senyuman yang ramah. Tangannya selalu siap dengan centong kayu panjang untuk mengambil beberapa lauk yang akan langsung dicampur dengan nasi. Uni Zar merupakan generasi ketiga pengelola warung makan ini. Ia adalah cucu dari Uni Lis yang sudah meninggal. Sebelum berjualan di Los Lambung, Uni Lis berjualan nasi Kapau di Pasar Lereng. Baru pada tahun 1989, pindah ke lokasi yang sekarang.


Uni Zar dan keluarga Uni Lis memang berasal dari daerah Nagari Kapau, Kecamatan Kilatan Kamang, Kabupaten Agam, tempat asal nasi Kapau. Mereka meneruskan tradisi berdagang nasi, karena rata-rata warga di sana memang berjualan nasi. Untuk bisa sampai ke Bukittinggi, dari Kapau dibutuhkan waktu kira-kira 40 menit. Seperti tradisi berdagang nasi yang sudah turun temurun, begitu pula dengan bumbu yang diresepkan. Mereka sudah tahu semua bumbu yang dipakai dan takarannya, karena sedari kecil sudah ikut membantu memasak. Untuk lauk, dipilih yang banyak disukai pelanggan dan cepat habis, seperti usus tambusu dan kikil. Ada pula yang menyukai dendeng, rendang ayam, rendang bebek, gulai tunjang, gulai cancang, pangek ikan, dan lain-lain.

Menu usus tambusu yang ditawarkan warung Nasi Kapau Uni Lis memang istimewa. Usus tambusu merupakan usus yang diisi adonan tahu dan telor. Uni Zar menjelaskan, perbedaan antara nasi Kapau dengan nasi Padang sebenarnya hanya terletak dalam penyajiannya. Kalau nasi Kapau semuanya disajikan dalam piring bercampur, beda dengan nasi Padang yang terhidang terpisah dengan lauk-lauknya. Nasi Kapau pasti juga dilengkapi sayuran seperti nangka, kol, dan kacang panjang yang disiram kuah gulai.


Warung Nasi Kapau Uni Lis tidak pernah membuka cabang di tempat lain. Jadi kalau ada yang ingin menikmati, memang harus datang ke warung yang hanya ada satu-satunya ini. Warung ini buka sejak pagi pukul 07.00 sampai pukul 17.30 WIB saja. Setiap hari, sejak pukul 04.00 pagi, Uni Zar sudah bangun dan memasak belasan jenis lauk yang akan dijual di Pasar Atas. Jam 6 biasanya semua masakan sudah siap. Warungnya tidak pernah libur, kecuali hari Lebaran. Soal harga, seporsi Nasi Kapau dengan satu jenis lauk dihargai Rp 25.000 saja. Harga ini jarang naik. Kalau pun harus naik, itu karena harga sembako yang mahal. Jadi semuanya memang disesuaikan dengan kondisi.

NASI KAPAU UNI CAH - BUKITTINGGI : Digemari Wisatawan Mancanegara Sampai Presiden




Sesuai nama rumah makannya, pemiliknya memang bernama Uni Cah. Di rumah makan dari perempuan yang mempunyai empat anak ini, anda bisa menyantap beragam menu khas Kapau. Menu rumah makan maupun kedai nasi Kapau sedikit berbeda dari rumah makan Padang, baik secara proses maupun penyajiannya. Rumah makan Padang dan kedai nasi Kapau memiliki menu khas seperti gulai sayur nangka yang biasanya terdiri dari nangka muda, kol, dan rebung. Menariknya, di rumah makan Padang, sayuran ini dipotong kecil-kecil, sementara pada menu nasi Kapau, sayuran disajikan utuh. Kol, misalnya, disajikan selembar utuh, sementara kacang panjang hanya dibagi 2-3 potong per lonjor. Menu lain yang menjadi ciri khas nasi Kapau adalah gulai usus sapi yang berisi campuran tahu dan telur ayam yang sudah dihaluskan. Selain itu perbedaan juga terletak pada bumbu. Bumbu di rumah makan Padang umumnya ditumis, sementara di rumah makan Kapau tak ada yang ditumis.

Uni Cah yang memiliki nama asli Nafsah, mulanya berjualan nasi Kapau secara kaki lima di Pasar Aur Kuning, Bukittinggi, pada 1981. Saat itu, karena keterbatasan modal, kedainya tak menyediakan meja makan. Seperti khas nasi Kapau pada umumnya, setiap menu diletakkan di baskom-baskom besar yang ditata secara berundak di depan penjual. Ketika pembeli memesan, penjual akan mengambil lauk-pauk dengan sendok sayur bergagang kayu panjang, sehingga bisa menjangkau lauk yang letaknya agak jauh dari jangkauan tangan. Para pembeli biasanya bersantap di depan atau samping menu yang ditata tersebut dengan menggunakan tangan.


Dibantu anak-anak dan suaminya, Uni Cah belajar memasak secara otodidak. Ia memilih memasak menu sedikit demi sedikit, sehingga pembeli selalu mendapatkan masakan yang baru setiap hari. Rasa masakannya yang lezat di lidah membuat kedainya selalu laris didatangi banyak pengunjung, termasuk dari luar kota. Maklum, Pasar Aur Kuning sehari-harinya menjadi pusat grosir busana seperti Tanah Abang di Jakarta. Tak sedikit pula petani yang sedang menjual hasil buminya di sana menjadi pelanggan Uni Cah.

Nama Uni Cah terkenal berkat promosi dari mulut ke mulut. Tak heran, meski hanya berupa warung tenda di kaki lima, pegawainya mencapai 15 orang. Usahanya pun makin meningkat sehingga pada 2012 ia bisa memindahkan usahanya ke sebuah ruko yang dikontraknya di Pasar Aur Kuning. Namun, lantaran ruko itu akhirnya dijual pemiliknya, tiga tahun kemudian seiring pertumbuhan usahanya, Uni Cah memindahkan usahanya ke sebuah rumah makan yang cukup luas di Jalan Padang Luar Km 4, Bukittinggi. Kala itu, jalanan di sana masih sepi dilalui orang.


Namun, menu nasi Kapaunya tetap diburu pelanggan sehingga makin lama usahanya makin maju dan bertahan hingga sekarang. Yang terkenal dari masakannya adalah rendang ayam, gulai tunjang, dan usus. Uni Cah juga menyediakan menu ikan bertelur. Di antara bumbu rendang yang lezat dan berwarna gelap, terselip pula dakak-dakak alias potongan singkong berukuran kecil yang membuat rendang terasa renyah. Sejak awal hingga sekarang, Uni Cah berbelanja dan memilih sendiri bahan bakunya agar kualitas tetap terjaga. Ia juga membuat bumbu dan memasak sendiri. Pagi pukul 09.00-22.00, rumah makannya siap melayani pembeli.

Uni Cah tak menyangka, setahun setelah pindah ke lokasi yang sekarang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono datang bersantap ke tempatnya bersama rombongan. Selain Presiden, ada juga menteri-menteri serta wisatawan mancangera. Kalau ada artis yang sedang konser di Padang pun, biasanya juga kerap mampir makan di tempatnya. Tak jarang pula Uni Cah mendapat pesanan untuk acara kenduri atau pernikahan. Sehari-hari, ia dibantu dua anaknya mengelola rumah makan yang tak membuka cabang ini.


Diakuinya, harga menu di rumah makannya lebih mahal dibanding tempat lain. Tapi Uni Cah menawarkan ukuran ikan yang lebih besar, juga dengan irisan lauknya. Kalau diramaskan atau dicampur langsung di piring, sayurnya diberi gratis. Harga menu di rumah makan Uni Cah paling murah sekitar Rp 35.000, yaitu tunjang atau ayam, sedangkan ikan bakar bisa mencapai Rp 60.000 per ekor. Kalau sedang libur panjang atau Lebaran, rumah makannya tak pernah sepi pengunjung, termasuk dari berbagai kota seperti Medan, Jambi, Jakarta, dan Pekanbaru.










MOST RECENT